DI tengah ancaman tiga titik panas Asia Timur, Selat Malaka berpotensi menjadi titik paling berbahaya bagi Indonesia. Prabowo Subianto memilih strategi Peace Through Strength, tapi apakah itu cukup?
Prof. Jiang Xueqin memprediksi titik panas Asia Timur (Taiwan, Selat Malaka, dan Semenanjung Korea), kini sorotan semakin tajam ke titik yang paling dekat dengan Indonesia: Selat Malaka.
Selat ini adalah salah satu chokepoint maritim tersibuk di dunia. Sekitar 80% kebutuhan energi China melewati Selat Malaka, begitu pula sebagian besar perdagangan Jepang, Korea Selatan, dan ASEAN. Gangguan sekecil apapun di sini akan langsung memicu lonjakan harga minyak global dan mengganggu rantai pasok dunia.
Ancaman Nyata di Selat Malaka:
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
- Peningkatan aktivitas kapal-kapal asing (termasuk China) di sekitar perairan Natuna dan Selat Malaka.
- Persaingan pengaruh antara China dan Amerika Serikat beserta sekutunya.
- Potensi blokade atau insiden maritim yang bisa memicu krisis besar.
Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan menegaskan pentingnya pertahanan mandiri dan strategi Peace Through Strength. Indonesia tidak boleh hanya pasif netral, melainkan harus memiliki kekuatan yang disegani agar suaranya didengar dalam kancah regional.
Di KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Prabowo juga mendorong ASEAN agar tidak menjadi arena proxy war great power. Namun, banyak analis menilai ASEAN saat ini masih lemah dalam koordinasi pertahanan bersama, terutama soal keamanan maritim.
Tantangan Indonesia:
- Modernisasi alutsista TNI AL yang masih tertinggal.
- Penguatan armada patroli di Selat Malaka dan Natuna.
- Diplomasi pertahanan yang lebih agresif tanpa harus memihak.
“Ancaman geopolitik bukan lagi teori. Selat Malaka adalah urat nadi ekonomi Indonesia. Kalau pemerintah serius dengan visi Indonesia Emas 2045, maka penguatan pertahanan di Selat Malaka harus menjadi prioritas utama — bukan hanya retorika. Zona Perdamaian ASEAN hanya akan bermakna jika didukung kekuatan yang nyata,” pungkas pengamat intelijen, Bondhan W, Sabtu (9/5).
