ESKALASI ketegangan di Teluk Persia menunjukkan sinyalemen yang kontradiktif. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menunda “Project Freedom”, operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz, setelah mengklaim adanya kemajuan menuju “Kesepakatan Final” dengan Iran. Langkah mendadak ini sempat menenangkan pasar minyak dunia, namun skeptisisme tetap membayangi di balik retorika Washington.
Pihak Teheran mengonfirmasi pada Rabu (6/5), mereka sedang meninjau proposal baru dari Washington. Hal ini menyusul laporan media AS yang menyebut kedua negara mulai mendekati kesepakatan dalam nota kesepahaman (MoU) satu halaman untuk mengakhiri konflik di Teluk.
Sinyal yang Berubah-ubah
Namun, gaya diplomasi Trump yang impulsif kembali memicu ketidakpastian. Hanya beberapa jam setelah mengumumkan penundaan operasional lewat platform Truth Social, Trump justru mengubah nada bicaranya pada Rabu pagi. Ia menyebut kesepakatan dengan Iran barulah sebuah “asumsi besar”.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
“Jika kesepakatan tidak disetujui, pengeboman dengan tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya akan dilanjutkan,” tegas Trump.
Ancaman ini muncul kurang dari 24 jam setelah Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan Operation Epic Fury, serangan militer pimpinan AS terhadap Iran, telah berakhir. Inkonsistensi ini membuat banyak pihak meragukan apakah perdamaian permanen benar-benar berada di depan mata.
Rincian Kesepakatan yang Meragukan
Laporan dari Axios menyebutkan draf kesepakatan tersebut berisi 14 poin yang bertujuan menghentikan permusuhan, membuka blokir Selat Hormuz, mencabut sanksi, dan membatasi ambisi nuklir Iran.
Meski demikian, respons dari Teheran cenderung dingin. Ebrahim Rezaei, juru bicara Komisi Keamanan Nasional Iran, menyebut 14 poin tersebut hanyalah “daftar keinginan” AS semata. Ia menegaskan di media sosial X bahwa Iran “tetap bersiap dan jari mereka berada di pelatuk” jika AS tidak memberikan konsesi yang adil.
Analisis Pakar: Jalan Masih PanjangGrant Rumley, mantan penasihat kebijakan Timur Tengah, mengingatkan bahwa meskipun administrasi Trump terlihat percaya diri, sejarah menunjukkan negosiasi dengan Iran seringkali runtuh di menit terakhir. Sebagai perbandingan, pada era Obama, detail teknis nuklir membutuhkan waktu 20 bulan untuk diselesaikan.
Di sisi lain, efektivitas “Project Freedom” sendiri dipertanyakan. Para ahli perkapalan mencatat hanya sedikit kapal yang berani melintas meski di bawah kawalan AS. Ali Vaez dari International Crisis Group menilai bahwa serangan balasan Iran terhadap kapal-kapal dan target di UEA kemungkinan besar telah meyakinkan Trump bahwa pendekatan militer tersebut tidak efektif.
