“Jika memungkinkan terjadi kenaikan aktivitas dan direkomendasikan oleh tim ahli kami, maka evaluasi hingga peningkatan status harus segera dilakukan,” kata Priatin.
Sementara itu Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah (Jateng) Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan sosialisasi tersebut menjadi dasar penting bagi daerah dalam memperkuat mitigasi bencana.
“Ini menjadi bahan awal bagi kami untuk disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya di lima kabupaten. Kata kuncinya bagaimana kita bisa menyelamatkan masyarakat sejak dini apabila terjadi erupsi,” katanya.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Ia mengatakan rencana kontingensi Gunung Slamet sebenarnya telah disusun sejak 2021, namun perlu diperbarui menyesuaikan perkembangan terbaru, seperti jumlah penduduk dan potensi jalur aliran material vulkanik. Menurut dia, pengalaman penanganan banjir bandang di Pemalang dan Purbalingga pada awal tahun 2026 dapat menjadi pembelajaran dalam manajemen kebencanaan, terutama dalam upaya penyelamatan masyarakat secara cepat.
Ia juga menekankan pentingnya peran desa tangguh bencana sebagai garda terdepan dalam menghadapi potensi erupsi.
“Hingga saat ini status Gunung Slamet masih berada pada Level II atau Waspada, sehingga kesiapsiagaan seluruh pihak perlu terus ditingkatkan guna mengantisipasi kemungkinan terburuk,” kata Bergas.
Sebelumnya PVMBG Badan Geologi pada 4 April 2026 memperluas batas aman di sekitar kawah puncak Gunung Slamet dari dua kilometer menjadi tiga kilometer seiring meningkatnya aktivitas vulkanik gunung yang sejak 19 Oktober 2023 berstatus Waspada (Level II).
