Tak Bisa Disamakan Garis Kemiskinan Versi BPS dan World Bank, Kerap Disalahpahami

Ilustrasi garis kemiskinan BPS dan World Bank
Ilustrasi garis kemiskinan BPS dan World Bank
0 Komentar

“Pendekatan tersebut seperti mencicipi satu sendok masakan untuk mewakili satu panci penuh,” terangnya.

Dalam praktiknya, terdapat beberapa indikator utama yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kemiskinan, antara lain jumlah penduduk miskin, persentase penduduk miskin terhadap total populasi, serta ukuran kedalaman kemiskinan yang menunjukkan seberapa jauh rata-rata pengeluaran penduduk miskin dari garis kemiskinan.

Jika pengeluaran seseorang berada di bawah garis kemiskinan, maka ia dikategorikan sebagai penduduk miskin. Sebaliknya, jika berada di atas garis tersebut, maka tidak termasuk miskin.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Per September 2024, garis kemiskinan tercatat sekitar Rp641.443 per kapita per bulan. Jika dikonversi ke rata-rata rumah tangga miskin dengan 4,76 anggota, maka kebutuhan minimum mencapai sekitar Rp3,05 juta per rumah tangga per bulan.

Nurma juga menyoroti posisi Indonesia yang kini telah masuk kategori negara berpendapatan menengah atas (upper middle income country). Pada 2023, gross national income (GNI) per kapita Indonesia tercatat sebesar US$4.540, sedikit di atas ambang batas US$4.516. Meski demikian, ia menekankan posisi Indonesia masih berada di batas bawah kategori tersebut.

“Jadi benar Indonesia sudah masuk upper middle income country, tetapi sesungguhnya dia (Indonesia) masih di batas bawahnya,” kata Nurma.

0 Komentar