Sejak awal, Perang Iran dimaksudkan AS sebagai operasi bersama Israel. Namun, belakangan terungkap adanya perbedaan tujuan strategis antara dua sekutu itu terhadap Iran.
Serangan Israel terhadap fasilitas energi Iran pada Sabtu (7/3/2026) telah ditanggapi secara sinis oleh Trump, yang lebih ingin minyak Iran diselamatkan ketimbang dihancurkan. Perbedaan tersebut kemudian memunculkan spekulasi tentang bagaimana kerja sama AS-Israel akan berlangsung.
Pada Minggu (8/3), Trump menyebut bahwa kapan perang akan berakhir bakal menjadi keputusan bersama antara dirinya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Akan tetapi, dengan perbedaan yang belakangan muncul, ada potensi bahwa Israel akan terus menyerang Iran, bahkan ketika AS menyatakan bahwa operasi telah dihentikan.
Penyelesaian Nuklir Iran Belum Tuntas
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
Berulang kali dalam pernyataan publiknya, Trump menyebut bahwa serangan AS ke Iran dilakukan demi menghentikan program nuklir Iran. Namun, kini solusi persoalan nuklir Iran justru samar.
Cadangan uranium Iran yang telah diperkaya hingga kini masih tersembunyi. Selama cadangan itu masih ada, ambisi Washington untuk mencegah pengayaan uranium Iran tak akan tercapai.
Belakangan pemerintahan Trump disebut tengah menimbang pengerahan pasukan darat untuk merebut atau bahkan menghancurkan cadangan uranium tersebut. Namun, hal ini perlu pengerahan pasukan dalam skala besar dengan risiko yang sangat tinggi.
Perpolitikan Iran Masih Berjalan
Salah satu hal yang terus digelorakan Trump dalam pernyataan publiknya adalah seruan bagi rakyat Iran untuk memulai pemberontakan dan menginisiasi pergantian rezim teokrasi di sana.
Retorika macam “waktu kebebasan kalian sudah di depan mata” rajin diungkap Trump ketika mengomentari situasi di Iran. Namun, sejauh ini belum tampak tanda nyata pemberontakan bakal terjadi.
Terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru juga menunjukkan bahwa sistem politik teokrasi Iran masih berjalan.
Situasi Politik di Amerika Serikat Tidak Menentu
Kemenangan juga sulit diklaim secara meyakinkan oleh Trump jika melihat situasi politik dalam negeri AS. Seiring pertempuran yang masih berlangsung, penilaian publik atas perang juga terus bergolak.
Baca Juga:Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko TinggiAnwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan Serius
Kenaikan harga minyak di tengah anggaran yang tercekik justru bisa jadi bumerang bagi Trump dan Partai Republik yang ia representasikan.
