Dalam hal klaim kemenangan AS dalam Perang Iran pada Rabu, kebiasaan Trump itu tampaknya kembali ia lakukan.
Analisis situasi di lapangan justru menunjukkan bahwa AS belum mencapai kemenangan. Situasi yang muncul pasca serangan 28 Februari justru jadi makin pelik, baik bagi AS maupun komunitas internasional.
Krisis di Selat Hormuz Menguat
Kendati Trump menyatakan kemenangan AS atas Iran, namun konflik yang pemerintahannya mulai telah menguatkan krisis di Selat Hormuz. Hal ini kemudian berdampak pada kenaikan harga minyak dunia yang juga turut berdampak pada AS.
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
Para analis menilai bahwa satu-satunya jalan keluar dalam krisis Selat Hormuz adalah penyelesaian politik, bukan militer. Meski begitu, Trump telah menyatakan bahwa ia hanya akan menjalankan upaya diplomasi jika Teheran mau menyerah tanpa syarat, sebuah permintaan yang telah ditolak Iran.
“Ancaman dari Iran adalah masalah politik yang membutuhkan penyelesaian politik. Infrastruktur rudal balistik serta program nuklir Iran adalah hal-hal yang menuntut solusi jalur politik. Hal yang sama berlaku untuk krisis ini,” papar Jennifer Kavanagh, direktur analisis militer Defense Priorities.
“Tidak ada solusi militer di sini, karena kalaupun Anda berhasil membukanya sekarang, siapa yang bisa menjamin jalur itu akan terus terbuka?” katanya.
Iran Kembali Memiliki Pemimpin Tertinggi
Terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan pada 28 Februari juga sulit disebut sebagai kemenangan AS secara taktis.
Meskipun pejabat AS menepis bahwa operasi Epic Fury memiliki tujuan untuk menggulingkan rezim Iran, namun kematian Ali Khamenei telah membuat Perang Iran berjalan dengan bingkai bahwa AS ingin melakukan pergantian rezim Iran secara paksa.
Dalam bingkai tersebut, terpilihnya pemimpin tertinggi Iran yang baru justru meruntuhkan klaim kemenangan Trump. Terlebih, Mojtaba Khamenei, anak Ali Khamenei yang kini menggantikan mendiang ayahnya, dikenal sebagai sosok yang lebih keras terhadap pengaruh Eropa dan AS.
Saat Amerika Serikat Berhenti Perang, Belum Tentu Israel Mau
Semula, pemerintahan Trump melakukan serangan ke Teheran bersama Israel. Kedua negara ini hingga kini jadi sekutu yang menggempur Iran sejak 28 Februari.
