Di tempat yang sama, Peneliti Ahli Madya BRIN, Hanif Fakhrurroja, mengutip pernyataan CEO Nvidia, Jensen Huang, yang mengatakan bahwa bukan AI yang akan menggantikan pekerjaan kita, tapi manusia yang menggunakan AI yang akan menggantikan kita.
“Jadi harus ada evolusi dari jurnalis tradisional ke smart journalism,” ucap Hanif.
Smart journalism sendiri merupakan praktik jurnalistik dengan memanfaatkan teknologi AI tanpa mengalihkan akuntabilitas dari manusia.
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
“Di satu sisi AI mempermudah pekerjaan jurnalistik, tapi di satu sisi AI itu punya kesalahan yaitu halusinasi dan bias. Pasalnya AI itu dibuat untuk menyenangkan manusia dan ini disebut halusinasi. Karena itu penggunaan AI dalam jurnalisme harus tetap meniaga akurasi, etika, dan kepatuhan hukum,” pungkasnya.
