Kakorlantas Paparkan Parameter Penerapan Rekayasa Lalu Lintas: Contraflow hingga Sistem Satu Arah

Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho
Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho (Polri)
0 Komentar

KAKORLANTAS Polri Irjen Agus Suryonugroho menjelaskan parameter yang digunakan kepolisian dalam menerapkan rekayasa lalu lintas berupa contraflow hingga sistem satu arah selama pelaksanaan Operasi Ketupat 2026. Kebijakan tersebut ditetapkan berdasarkan pemantauan langsung terhadap volume kendaraan di jalan tol.

Pemantauan arus kendaraan dilakukan melalui radar lalu lintas yang dipasang di sejumlah titik strategis. Data yang dihimpun setiap jam menjadi dasar pengambilan keputusan untuk menentukan apakah rekayasa lalu lintas perlu diberlakukan.

“Kalau masalah contraflow yang ada di jalan tol itu ada parameternya. Jadi nanti di kilometer 47 itu ada radar. Radar itu menghitung jumlah kendaraan selama satu jam berturut-turut,” kata Agus saat memberikan keterangan pers di Command Center Korlantas Polri di Cikampek, Jawa Barat, Ahad (15/3/2026).

Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?

Ia menjelaskan radar tersebut memantau volume kendaraan secara terus-menerus. Ketika jumlah kendaraan melampaui ambang batas tertentu dalam satu jam berturut-turut, petugas akan segera melaporkan kondisi tersebut kepada pimpinan untuk menentukan langkah rekayasa lalu lintas.

Dalam skema yang disiapkan, lanjut Agus, contraflow tahap pertama akan diterapkan ketika volume kendaraan mencapai 5.500 kendaraan per jam.

“Apabila satu jam berturut-turut mencapai 5.500 kendaraan, kami akan melapor kepada Kapolri untuk melakukan rekayasa lalu lintas contraflow lajur 1. Kemudian apabila satu jam berikutnya berturut-turut naik menjadi 6.400 kendaraan, maka dilakukan contraflowlajur 2,” ujar Kakorlantas.

Jika kepadatan kendaraan masih terjadi setelah penerapan contraflow, kepolisian akan mempertimbangkan penerapan sistem satu arah atau one way secara bertahap di ruas tol tertentu.

“Kalau masih ada kepadatan dan perlambatan, kami akan lapor ke pimpinan untuk melakukan one way sepenggal tahap pertama di lokasi one way nasional. Jadi belum one way nasional, tetapi tahap awal di ruas tersebut,” tutur Agus.

Petugas juga memperkuat pemantauan kondisi lalu lintas melalui teknologi pengawasan udara. Drone ETLE diterbangkan secara berkala untuk memantau situasi arus kendaraan di sejumlah ruas tol utama.

Pemantauan tersebut difokuskan di jalur antara kilometer 47 hingga kilometer 70 yang menjadi salah satu titik penting dalam pengaturan arus kendaraan menuju jalur Trans Jawa.

0 Komentar