Dari sini, situasi tampak sudah lepas kendali. Elon makin pedas mengkritik Trump dan usulan RUU anggaran terbaru dan berbagai hal lainnya.
“Tanpa saya, Trump akan kalah dalam pemilihan, Parlemen Demokrat akan mengendalikan DPR dan Parlemen. Republik akan menjadi 51-49 di Senat,” tulis Musk. “Tak berterima kasih.”
Apa yang terjadi selanjutnya masih belum jelas. Posisi Musk yang tadinya jadi anak kesayangan Partai Republik. Sekarang justru Elon menciptakan musuh di Demokrat dan Republik itu sendiri, serta pendukung Trump.
Baca Juga:Sekjen DPR Sebut Terima Surat Forum Purnawirawan TNI soal Pemakzulan Gibran: Kami Teruskan ke PimpinanKetua Koperasi Al- Azariyah dan Pengawas Operasional Tersangka Insiden Longsor Tambang Galian C Gunung Kuda
Trump kemudian memperingatkan risiko terhadap bisnis Musk, termasuk perusahaan roket SpaceX dan perusahaan komunikasi Starlink. “Cara termudah untuk menghemat uang dalam anggaran pemerintah, miliaran dan miliaran dolar AS, adalah dengan mengakhiri Subsidi dan Kontrak Pemerintah AS dengan Elon,” tulis Trump.
Namun, Musk juga dapat merusak agenda Trump. Dalam pidato pelantikannya tahun lalu, Trump membayangkan memasang bendera AS di Mars, tetapi pada hari Kamis, Musk mengatakan dia berencana untuk menonaktifkan roket SpaceX yang digunakan AS untuk mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional, sebagai pembalasan atas kata-kata Trump.
Komentar terakhir Trump, Kamis kemarin, memperlihatkan memanasnya perseteruan dua orang unik ini. “Saya tidak keberatan Elon berbalik melawan saya, tetapi dia seharusnya melakukannya beberapa bulan yang lalu. Ini adalah salah satu RUU terbesar yang pernah diajukan ke Kongres. Ini adalah rekor pemotongan anggara, 1,6 triliun dolar AS, dan pemotongan pajak terbesar yang pernah diberikan,” tulis Trump di Truth Social. “Jika RUU ini tidak disahkan, akan ada Kenaikan Pajak 68 persen, dan hal-hal yang jauh lebih buruk dari itu.”
