Camilla menyebut Eropa kini berada di posisi “menengah”: tidak lagi sepenuhnya bergantung secara pasif pada Amerika, tetapi juga belum mampu berdiri sepenuhnya secara strategis. “Otonomi strategis muncul bukan sebagai sebuah perpecahan, tetapi sebagai strategi ketahanan untuk menghadapi ketidakpastian sambil mempertahankan fondasi keamanan trans-Atlantik,” tulisnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dunia Barat kini sedang memasuki fase geopolitik baru, ketika Eropa mulai mempertanyakan ketergantungannya terhadap Amerika dan perlahan berusaha membangun dirinya sebagai kekuatan global yang lebih mandiri di tengah rivalitas dunia yang semakin tajam antara Amerika, China, dan Rusia.
NATO Bisa Bertahan?
Ketidakpastian hubungan antara Amerika Serikat dan NATO memunculkan kekhawatiran baru di Eropa mengenai masa depan keamanan benua tersebut jika Washington suatu hari mengurangi komitmen militernya.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Kekhawatiran itu menguat selama era kedua Donald Trump setelah Trump berulang kali mengkritik NATO dan menuding negara-negara Eropa terlalu bergantung pada perlindungan militer Amerika. Trump bahkan pernah mengancam tidak akan melindungi anggota NATO yang dinilai tidak memenuhi target belanja pertahanan.
Selama puluhan tahun NATO bertumpu pada kekuatan militer Amerika, mulai dari perlindungan nuklir, intelijen, sistem komando, hingga pengerahan pasukan strategis. Amerika juga menyumbang porsi terbesar dalam pertahanan udara, logistik global, satelit militer, dan sistem rudal NATO.
Kondisi itu membuat sejumlah negara Eropa mulai mempercepat pembahasan mengenai “otonomi strategis”. Prancis menjadi negara paling aktif mendorong gagasan tersebut. Presiden Emmanuel Macron bahkan pernah menyebut NATO mengalami “mati otak” dan menyerukan agar Eropa membangun pertahanan yang lebih independen, termasuk melalui perluasan payung nuklir Prancis.
Sementara itu, Jerman mulai meningkatkan anggaran pertahanan sejak perang Ukraina pecah. Kanselir Friedrich Merz juga disebut mendukung penguatan industri pertahanan Eropa dan pengurangan ketergantungan strategis terhadap Washington.
