Menurut The Guardian, situasi tersebut memperlihatkan bahwa model keamanan lama Eropa tidak lagi sepenuhnya dapat diandalkan. “Model keamanan Eropa yang baru untuk era baru harus memiliki solidaritas dan pengambilan keputusan bersama sebagai intinya,” tulis editorial tersebut.
Media itu juga menyoroti mulai munculnya gagasan memperluas payung nuklir Prancis ke tingkat Eropa serta pembentukan dana pertahanan Uni Eropa senilai 150 miliar euro. Namun hingga kini, Eropa dinilai masih terlalu terfragmentasi dalam kebijakan pertahanan dan pengadaan militer.
Sementara itu, editorial Le Monde pada Januari lalu bahkan menyebut hubungan trans-Atlantik kini semakin “asimetris, tidak stabil, dan beracun.” Media Prancis itu menilai kebijakan Trump telah memperlihatkan secara terang bagaimana ketergantungan Eropa terhadap Amerika menjadi persoalan strategis serius. “Trump bukan kecelakaan sejarah, tetapi penanda era baru,” tulis Le Monde.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Menurut Le Monde, Eropa selama puluhan tahun menikmati kenyamanan perlindungan Amerika tanpa membangun kapasitas strategisnya sendiri secara memadai. Akibatnya, Uni Eropa kini sangat bergantung kepada Washington dalam sektor pertahanan, teknologi, energi, keuangan, hingga keamanan global.
Editorial tersebut menyerukan percepatan “emansipasi” Eropa melalui pembangunan kekuatan militer bersama, kedaulatan teknologi, keamanan rantai pasok, serta sistem energi dan pendanaan independen. Le Monde juga memperingatkan bahwa Washington selama ini kerap memanfaatkan perpecahan internal Eropa sebagai alat pengaruh geopolitik.
Di tengah meningkatnya seruan kemandirian itu, sejumlah analis menilai Eropa sebenarnya belum sepenuhnya memasuki era “pasca-Amerika”. Studi terbaru yang dimuat European Student Think Tank menyebut Eropa saat ini lebih tepat disebut sedang beradaptasi terhadap perubahan tatanan global, bukan benar-benar memutus ketergantungan terhadap Amerika.
Analisis yang ditulis Camilla Cappa menyebut fondasi keamanan Eropa masih sangat bergantung pada NATO, terutama dalam perlindungan nuklir, sistem komando, intelijen, dan kapasitas militer strategis. “Bukti empiris belum menunjukkan adanya keretakan sistemik. Respons Eropa lebih mencerminkan kalibrasi ulang dalam kerangka kerja saling ketergantungan yang telah lama terinstitusionalisasi,” tulis Camilla.
Menurut studi tersebut, negara-negara Eropa memang mulai meningkatkan anggaran pertahanan dan membangun proyek bersama seperti PESCO dan Dana Pertahanan Eropa. Namun NATO tetap menjadi kerangka utama keamanan Eropa dan berbagai inisiatif Uni Eropa sejauh ini masih bersifat pelengkap, bukan pengganti sistem pertahanan Atlantik yang dipimpin Amerika.
