Kasus kematian juga menimpa sejumlah ilmuwan lainnya, termasuk Nuno Loureiro (47), direktur Pusat Sains Plasma dan Fusi MIT, serta Carl Grillmair (67), astrofisikawan Caltech, yang masing-masing dilaporkan tewas akibat penembakan pada 2025 dan 2026.
Di sisi lain, jenazah ilmuwan peneliti kanker, Jason Thomas, yang sebelumnya dilaporkan hilang, ditemukan di sebuah danau di Massachusetts pada awal tahun ini.
Media juga melaporkan kemungkinan kasus lain yang melibatkan Amy Eskridge (34), ilmuwan yang disebut meneliti teknologi anti-gravitasi. Ia ditemukan meninggal dunia pada 2022 akibat luka tembak yang diduga dilakukan sendiri. Namun, laporan investigasi resmi terkait kasus tersebut tidak dipublikasikan oleh pihak berwenang.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Mantan asisten direktur FBI, Chris Swecker, menilai rangkaian kasus ini perlu ditelusuri lebih lanjut. Ia menyebut seluruh kejadian tersebut “mencurigakan”, mengingat para korban memiliki keterkaitan dengan teknologi strategis.
Hingga saat ini, otoritas Amerika Serikat belum menemukan keterkaitan yang terkonfirmasi antara satu kasus dengan lainnya. Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap penyebab pasti dari serangkaian peristiwa tersebut.
Sejumlah pengamat keamanan nasional menilai, pola kasus yang melibatkan individu-individu dengan akses pada teknologi sensitif memang selalu menjadi perhatian serius pemerintah. Dalam banyak kasus global, kematian atau hilangnya ilmuwan sering dikaitkan dengan potensi kebocoran informasi strategis, meski tidak selalu terbukti.
Di lingkungan FBI, penanganan kasus dengan dimensi keamanan nasional biasanya melibatkan koordinasi lintas lembaga, termasuk badan intelijen dan militer. Hal ini penting untuk memastikan setiap kemungkinan, mulai dari faktor kriminal hingga ancaman eksternal, dapat ditelusuri secara komprehensif.
Di sisi lain, spekulasi mengenai keterlibatan pihak asing juga menjadi perhatian, terutama di tengah meningkatnya rivalitas teknologi global. Negara-negara dengan kepentingan pada pengembangan teknologi nuklir dan antariksa kerap berada dalam kompetisi ketat, yang dalam beberapa kasus memicu operasi intelijen lintas batas.
Namun demikian, para analis mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Tanpa bukti yang kuat, spekulasi berlebihan justru berpotensi mengaburkan proses investigasi yang sedang berjalan.
Beberapa pakar juga menyoroti kemungkinan faktor non-keamanan, seperti tekanan pekerjaan di sektor riset strategis yang dikenal memiliki tingkat stres tinggi. Dalam sejumlah kasus sebelumnya, faktor personal dan psikologis juga pernah menjadi bagian dari penjelasan.
