PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil langkah tegas dengan memerintahkan blokade Selat Hormuz setelah perundingan damai AS dan Iranuntuk gencatan senjata mengalami kebuntuan.
Kebijakan ini disebut sebagai upaya untuk menekan Teheran agar kembali membuka jalur pelayaran vital tersebut bagi arus energi global, yang saat ini terdampak konflik Timur Tengah tersebut.
Blokade selat Hormuz tersebut dijalankan melalui tiga pendekatan utama oleh Amerika Serikat (AS). Langkah pertama adalah pengerahan kekuatan militer dalam skala besar. Lebih dari 15 kapal perang dikerahkan untuk mengamankan jalur strategis tersebut.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Di antaranya termasuk kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa jet tempur siluman F-35B Lightning II serta pesawat angkut MV-22 Osprey. Seluruh armada ditempatkan di sekitar pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.
Langkah kedua adalah pembatasan lalu lintas kapal menuju dan dari Iran. Trump menegaskan bahwa Angkatan Laut AS telah diperintahkan untuk bertindak tegas terhadap kapal yang dianggap melanggar aturan.
“Saya juga telah menginstruksikan Angkatan Laut kami untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar pungutan kepada Iran. Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan memiliki jalur aman di laut lepas,” kata Trump dikutip CNN News, Rabu (15/4).
Sejalan dengan itu, Komando Pusat AS atau CENTCOM mengeluarkan peringatan kepada pelaut internasional. Berdasarkan laporan media, kapal yang memasuki atau meninggalkan wilayah blokade tanpa izin berisiko dicegat, dialihkan, bahkan ditahan oleh otoritas militer AS.
Langkah ketiga adalah operasi pembersihan ranjau laut untuk menjamin keamanan jalur pelayaran. Dua kapal perusak, USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy, dikerahkan ke kawasan Teluk Persia guna menyingkirkan ranjau yang diduga dipasang oleh Islamic Revolutionary Guard Corps.
Operasi ini dilakukan sehari setelah pengumuman resmi blokade, dengan tujuan memastikan Selat Hormuz tetap dapat dilalui tanpa ancaman ranjau laut.
Sebelumnya, Iran dilaporkan telah menebarkan ranjau di wilayah tersebut, meskipun lokasi pastinya kini tidak diketahui.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Langkah-langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik Timur Tengah, sekaligus memperlihatkan strategi tekanan militer dan ekonomi yang diterapkan Washington terhadap Teheran di tengah mandeknya jalur diplomasi.
