PELAKSANAAN salat Idul Fitri di Teheran pada Sabtu, 21 Maret 2026, menyisakan tanda tanya besar bagi dunia internasional. Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang baru saja resmi menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran awal bulan ini menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei, secara mengejutkan tidak hadir untuk memimpin jemaah di Masjid Agung Imam Khomeini.
Ketidakhadiran ini menjadi sorotan tajam karena secara tradisi, memimpin salat Idulfitri adalah momen krusial bagi seorang Rahbar untuk menunjukkan otoritas religius dan politiknya, sekaligus menyampaikan khotbah penting mengenai arah kebijakan negara.
Teka-teki Kondisi Kesehatan Mojtaba Khamenei
Sejak diumumkan sebagai Pemimpin Tertinggi pada 9 Maret 2026, Mojtaba belum pernah muncul secara fisik di hadapan publik maupun melalui siaran video langsung. Informasi yang beredar hanya berupa pesan tertulis, termasuk pesan Nowruz (Tahun Baru Persia) dan ucapan selamat Idulfitri 1447 H.
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
Absennya Mojtaba memperkuat spekulasi yang berkembang di kalangan intelijen Barat dan analis Timur Tengah. Beberapa poin kunci yang memicu kekhawatiran meliputi:
- Dugaan Luka Serius: Laporan dari intelijen Amerika Serikat menyebutkan bahwa Mojtaba kemungkinan terluka dalam serangan udara yang menewaskan ayahnya pada akhir Februari lalu.
- Krisis Legitimasi: Sebagai pemimpin yang naik di tengah situasi perang, kehadiran fisik sangat dibutuhkan untuk meredam faksi-faksi internal dan memberikan semangat bagi rakyat Iran.
- Delegasi Kekuasaan: Salat Id di Teheran akhirnya dipimpin oleh Kepala Peradilan Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, sebuah langkah yang jarang terjadi jika Pemimpin Tertinggi dalam kondisi bugar.
Signifikansi Salat Id bagi Pemimpin Tertinggi Iran
Dalam sistem Wilayat al-Faqih, Pemimpin Tertinggi bukan sekadar kepala negara, melainkan wakil imam di muka bumi bagi penganut Syiah. Memimpin salat Idulfitri adalah simbol bahwa ia memegang kendali penuh atas aspek spiritual dan militer (sebagai Panglima Tertinggi).
Ketika seorang pemimpin baru “menghilang” di momen sakral ini, muncul pertanyaan: Apakah Iran sedang menjalankan pemerintahan transisi di balik layar? Ataukah ini merupakan strategi keamanan tingkat tinggi untuk melindungi sang Rahbar dari ancaman pembunuhan (decapitation strike) yang terus diincar oleh koalisi AS-Israel?
