Keberadaan Alien Sejarah Spekulasi Panjang, Apakah Para Filsuf Yunani Kuno Percaya Makhluk Luar Angkasa?

Ilustrasi
Ilustrasi
0 Komentar

KONSEP alien sudah cukup tua, jauh sebelum peradaban manusia mengembangkan pemahaman yang akurat secara ilmiah tentang kosmos, orang-orang di seluruh dunia melihat ke langit dan bertanya-tanya apa yang ada di luar sana. Demikian tulisan Tim Brinkhof dalam laman Big Think.

Melalui berbagai literatur maupun karya seni kuno, kita dapat melihat beberapa upaya masyarakat kuno untuk memahami alam semesta ini. Mereka mengisi bentangan alam semesta yang luas dan misterius ini dengan para dewa, sebagai entitas yang bertanggung jawab sebagai pencipta matahari, bulan, dan bintang-bintang.

Sebagian lagi menganggap benda-benda langit memiliki kesamaan dengan Bumi, dan karena itu dihuni oleh organisme yang tidak berbeda dengan kita.

Baca Juga:Ibu Kandung Pegi Setiawan Tolak Jalani Pemeriksaan Psikologi, Ini Alasan Kuasa HukumSurvey ARFI Institut Ungkap Hasil Elektabilitas Calon Wali Kota Cirebon: Eti Herawati di Urutan Ketiga

Brinkhof menjelaskan, melalui buku Extraterrestrials karya Wade Roush, kita dapat menelusuri sejarah spekulasi tentang alien selama hampir dua setengah milenium. Sejarah ini dimulai dari zaman Yunani kuno dan berlanjut hingga ekspedisi penjelajahan Mars yang terbaru.

Sejarah spekulasi tentang alien bukan hanya sejarah ilmu pengetahuan, “tetapi juga sejarah agama dan budaya populer,” tegas Brinkhof

Zaman Yunani Kuno

Di masa lalu, orang sering dianiaya karena berpikir secara berbeda. Hal ini terjadi bahkan di Yunani kuno, tempat yang terkenal dengan para filsuf perintisnya.

Filsuf Anaxagoras merupakan salah satu orang yang dianiaya karena berpikiran melawan arus. Ia berusaha memberikan penjelasan ilmiah untuk menjelaskan fenomena seperti gerhana dan pelangi. Dua hal itu, bagi masyarakat Yunani Kuno adalah fenomena supranatural.

“Bulan bukanlah dewa, melainkan batu besar dan matahari adalah batu yang panas,” kata Anaxagoras. Karena pernyataannya, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Anaxagoras akan mengalami nasib yang mirip dengan Socrates, namun pada akhirnya ia dibuang dan bukannya dibunuh berkat permohonan teman-temannya.

Brinkhof menerangkan, Anaxagoras juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa bulan mungkin dihuni. Anggapan ini sangat kontroversial dan bertentangan dengan pandangan dominan tentang kosmos yang digariskan oleh Plato serta Aristoteles.

Baca Juga:Persidangan Taipan Media Hong Kong Atas Tuduhan ‘Konspirasi Publikasi Hasutan’ Makan Waktu LamaDirektur Al Jazeera Salah Negm: Kerugian yang Kami Alami karena Penghentian Siaran Dibawa ke Jalur Hukum

“Plato, yang memisahkan realitas antara bentuk dan bayangan, menolak untuk mengakui keberadaan dunia selain dunia kita,” jelas Brinkhof.  Aristoteles juga menampik pandangan tersebut, ia menyatakan “bahwa Bumi adalah satu-satunya pusat alam semesta.”

0 Komentar