PADA Minggu, 12 April, Paus Leo XIV menyampaikan rasa kedekatan mendalam kepada rakyat Lebanon.
Ia menegaskan adanya kewajiban moral untuk melindungi warga sipil sekaligus menyerukan kepada pihak-pihak yang bertikai agar segera mengupayakan perdamaian.
Lebanon mulai terseret ke dalam krisis Timur Tengah bulan lalu seiring pengejaran Israel terhadap kelompok Hizbullah, di mana otoritas setempat melaporkan lebih dari 2.000 orang tewas akibat serangan Israel.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Pernyataan tersebut disampaikan Paus di hadapan kerumunan massa di Lapangan Santo Petrus setelah doa Regina Coeli. Ia mengatakan dukungannya kepada rakyat Lebanon yang sedang menghadapi masa-masa penuh kesedihan dan ketakutan.
“Saya merasa lebih dekat dari sebelumnya, di hari-hari penuh kesedihan, ketakutan, dan harapan yang tak tergoyahkan kepada Tuhan, bagi rakyat Lebanon yang terkasih,” ujar Paus, seperti dikutip, Channel News Asia, Senin, 13 April 2026.
Paus menekankan bahwa prinsip kemanusiaan yang tertulis dalam hati nurani setiap orang dan diakui hukum internasional menuntut kewajiban moral untuk melindungi populasi sipil dari dampak perang yang kejam. Sebagaimana sikap sebelumnya, Paus asal Amerika Serikat tersebut menyerukan solusi damai kepada seluruh pihak yang terlibat tanpa menyebutkan nama pihak tertentu secara spesifik.
Pernyataan dari pontifeks berusia 70 tahun ini muncul di tengah kegagalan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat di Pakistan yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Kegagalan tersebut menambah ketidakpastian keamanan di kawasan yang terus bergejolak.
Pada hari Sabtu sebelumnya, saat memimpin doa untuk perdamaian, Paus Leo menyampaikan kritik paling tajam terhadap perang tersebut. Ia mendesak para pemimpin dunia untuk segera mengakhiri kekerasan yang terus memakan korban jiwa.
“Berhenti! Ini adalah waktunya untuk damai! Duduklah di meja dialog dan mediasi, bukan di meja tempat perencanaan persenjataan dan keputusan tindakan mematikan dibuat!” tegasnya.
Pemimpin 1,4 miliar umat Katolik sedunia itu juga menyerukan penghentian penyembahan terhadap diri sendiri dan uang, serta penghentian unjuk kekuatan melalui perang. Ia telah berulang kali mendesak adanya de-eskalasi dalam perang AS-Israel melawan Iran serta menekankan perlunya solusi diplomatik.
