Kegagalan Kesepakatan Damai Amerika Serikat-Iran di Islamabad, Picu Alarm Bahaya dari IMF dan World Bank

Kegagalan Kesepakatan Damai Amerika Serikat-Iran di Islamabad, Picu Alarm Bahaya dari IMF dan World Bank
Logo Bank Dunia. (Foto: AFP)
0 Komentar

  • Pertumbuhan Ekonomi Anjlok: Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara berkembang pada 2026 hanya mencapai 3,65 persen (turun dari 4 persen). Angka ini bisa merosot hingga 2,6 persen jika konflik berlarut-larut.
  • Ledakan Inflasi: Inflasi global diprediksi melonjak ke angka 4,9 persen, dan skenario terburuk bisa menyentuh 6,7 persen seiring kacaunya harga energi dunia.
  • Krisis Pangan Akut: IMF memperingatkan sekitar 45 juta orang tambahan berisiko mengalami kelaparan akut akibat terganggunya rantai pasok pupuk dan logistik.

Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, tak ragu menyebut situasi saat ini sebagai ‘guncangan besar bagi sistem’ global. Untuk meredam dampak awal, Bank Dunia bersiap mencairkan dana talangan sekitar US$25 miliar, yang bisa membengkak hingga US$70 miliar dalam enam bulan ke depan. Sementara itu, IMF mengestimasi kebutuhan dana darurat mencapai US$20 miliar hingga US$50 miliar.

Krisis kali ini datang di saat yang paling buruk bagi negara berkembang. Di saat mereka harus menekan inflasi tanpa mematikan pertumbuhan, beban utang yang harus dibayar pada 2025 tercatat dua kali lipat lebih besar dibanding era sebelum pandemi.

Para ekonom memperingatkan bahwa menyuntikkan utang baru bukanlah solusi final. Mantan pejabat Departemen Keuangan AS, Mary Svenstrup, mendesak lembaga donor untuk memberikan keringanan utang yang nyata.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

“Negara-negara ini tidak bisa terus diminta mengorbankan pertumbuhan demi memperbaiki cadangan keuangan,” tegas Svenstrup.

Hal senada diungkapkan Ekonom dari Atlantic Council, Martin Muehleisen, yang menuntut percepatan restrukturisasi utang agar negara miskin dan berkembang tidak terkubur dalam jebakan siklus utang tak berujung akibat ego geopolitik AS dan Iran.

0 Komentar