KEGAGALAN Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai permanen di Islamabad, Pakistan, memicu gelombang kekecewaan dari komunitas internasional. Mandeknya diplomasi kedua negara tidak hanya memperpanjang ketegangan geopolitik, tetapi juga memicu peringatan keras dari lembaga keuangan global terkait ancaman guncangan ekonomi yang siap menghantam negara-negara berkembang.
Pemerintah Inggris secara terbuka menyayangkan kebuntuan tersebut. Menteri Kesehatan Inggris, Wes Streeting, menyebut ketiadaan terobosan dalam negosiasi ini sebagai sebuah kemunduran yang mengecewakan.
“Jelas mengecewakan bahwa kita belum melihat terobosan dalam negosiasi dan belum ada akhir dari perang di Iran yang benar-benar berkelanjutan,” ujar Streeting kepada Sky News, Minggu (12/4/2026).
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Meski begitu, ia menegaskan bahwa satu kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya. “Seperti biasa dalam diplomasi, Anda mengalami kegagalan sampai akhirnya berhasil. Bukan berarti tidak ada nilai untuk terus mencoba,” imbuhnya.
Nada frustrasi serupa disuarakan oleh Australia. Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, mendesak agar kedua pihak tidak gegabah dan memprioritaskan pemeliharaan gencatan senjata yang ada.
“Prioritas saat ini harus melanjutkan gencatan senjata dan kembali ke meja perundingan. Sangat mengecewakan pembicaraan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan,” tegas Wong, dikutip dari Al Jazeera.
Di sisi lain, Pakistan sebagai tuan rumah sekaligus fasilitator menolak untuk lempar handuk. Kementerian Luar Negeri Pakistan memastikan pihaknya akan terus menjadi mediator yang aktif menjembatani jurang perbedaan antara Washington dan Teheran.
“Kami berharap kedua pihak terus melanjutkan semangat positif. Sangat penting bagi kedua pihak untuk tetap memegang komitmen terhadap gencatan senjata,” bunyi pernyataan resmi Islamabad yang dilaporkan TASS.
Di balik layar geopolitik yang panas, awan gelap krisis ekonomi mulai menyelimuti. Para pejabat keuangan global yang berkumpul di Washington pekan ini di bawah bendera Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) menempatkan eskalasi AS-Iran sebagai ‘guncangan besar ketiga’ bagi ekonomi global, setelah pandemi COVID-19 dan invasi Rusia ke Ukraina.
Rentetan efek domino dari konflik ini memaksa IMF dan Bank Dunia untuk merevisi proyeksi ekonomi dunia. Berikut adalah ancaman nyata yang membayangi, khususnya bagi negara berkembang:
