Disertasi Para Doktor Iran Buntu di 'Islamabad Talks' Terbentur Pragmatisme Broker

Foto yang diambil pada 10 April 2026 menunjukkan papan reklame untuk pembicaraan AS-Iran di Islamabad, Pakista
Foto yang diambil pada 10 April 2026 menunjukkan papan reklame untuk pembicaraan AS-Iran di Islamabad, Pakistan. (ANTARA/Xinhua/Ahmad Kamal.)
0 Komentar

UPAYA diplomatik maraton yang digadang-gadang mampu meredam bara di Timur Tengah akhirnya menemui jalan buntu. ‘Islamabad Talks’, perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dimediasi Pakistan, resmi berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4/2026).

Meski berakhir nihil, pertemuan ini mencatatkan rekor sebagai negosiasi terlama sepanjang tahun 2026. Selama 25 jam penuh, para delegasi dari dua kutub yang berseberangan ini bergulat dengan ego, ideologi, dan kepentingan di balik meja perundingan yang melelahkan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengonfirmasi intensitas luar biasa tersebut. Dimulai sejak Sabtu (11/4/2026) dan berlangsung semalaman hingga Minggu pagi, meja perundingan menjadi saksi betapa sulitnya menyatukan dua cara berpikir yang berbeda.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

“Putaran perundingan itu merupakan yang terpanjang dalam tahun ini dan berlangsung selama total 24 hingga 25 jam,” ujar Baghaei sebagaimana dikutip dari kantor berita Mehr News.

Ada pemandangan yang kontras di meja panjang tersebut. Iran tidak sekadar mengirim diplomat; mereka mengirim barisan intelektual dengan kualifikasi akademik yang menggetarkan. Teheran tampak sangat menekankan bahwa diplomasi adalah sebuah sains yang harus dikerjakan oleh para Doktor (PhD).

Di barisan depan, duduk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, pemegang PhD dalam pemikiran politik dari University of Kent, Inggris. Di sampingnya, Majid Takht-Ravanchi, pemegang PhD ilmu politik dari University of Bern, Swiss. Ada pula Mohammad Bagher Qalibaf, Ketua Parlemen yang menyandang gelar Doktor geografi politik.

Tak ketinggalan sosok Mohammad Bagher Zolghadr, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Pria kelahiran 1954 ini bukan sekadar jenderal; ia adalah lulusan ekonomi University of Tehran sebelum revolusi dan menyandang gelar Doktor dalam bidang Manajemen Strategis.

Dengan kedalaman teori manajemen dan pengalaman gerilya ideologis, Zolghadr memahami keamanan sebagai konstruksi panjang sebuah peradaban, bukan sekadar operasi militer sesaat.

Bagi Teheran, perundingan ini adalah ujian tesis. Mereka mengurai konflik dengan konsep, sejarah, dan ketelitian bahasa. Mereka percaya bahwa setiap krisis memiliki akar yang harus dipahami melalui argumen intelektual.

Namun, di sisi lain meja, Amerika Serikat hadir dengan gaya yang jauh lebih praktis dan ringkas. Gaya Washington terasa sangat bercorak bisnis dan teknokratis.

0 Komentar