Sidang kasus korupsi Netanyahu akan dilanjutkan hari Minggu (12/4) mendatang. Sidang ini telah berlangsung lama namun belum juga menemui akhir.
Dilansir dari Aljazeera, juru bicara pengadilan menyatakan hal ini beberapa jam setelah Israel mencabut keadaan darurat yang diberlakukan terkait perang Iran.
“Dengan dicabutnya keadaan darurat dan kembalinya sistem peradilan untuk bekerja, sidang akan dilanjutkan seperti biasa,” demikian pernyataan pengadilan Israel.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Sementara itu, Iran mengungkap dugaan motif tersembunyi Netanyahu yang berambisi menggagalkan gencatan senjata antara Teheran dan AS dengan terus membombardir Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Netanyahu memiliki motif tersembunyi untuk terus melanjutkan perang bak pengalihan isu dari kasusnya itu.
“Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat pemenjaraannya,” tulis Araghchi di media sosial, Jumat (10/4).
Araghchi mengatakan akan menjadi “kebodohan” bagi AS jika membiarkan Israel merusak kesepakatan gencatan senjata dengan terus melancarkan serangan intens di Lebanon.
Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon demi menargetkan milisi Hizbullah. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban tewas dari 2 Maret hingga 9 April telah mencapai sekitar 1.888 orang tewas dan 6.092 lainnya terluka.
Sementara itu, sejak 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sebanyak 3.597 orang tewas menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA).
Teheran mengklaim Lebanon termasuk wilayah yang masuk dalam kesepakatan gencatan senjata antara AS-Iran pada Selasa (7/4). Lebanon merupakan sekutu Iran yang juga membantu Teheran melancarkan serangan ke Israel.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebagai mediator juga telah mengonfirmasi hal tersebut.
“Jika AS ingin meruntuhkan ekonominya sendiri dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, itu pada akhirnya adalah pilihannya. Kami menilai itu bodoh, tetapi kami siap menghadapinya,” ujar Sharif.
