PEMIMPIN Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, pada Kamis, 9 April 2026, menyatakan bahwa rakyat Iran merupakan pemenang dalam konflik yang disebut sebagai “perang ketiga yang dipaksakan”.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pesan memperingati 40 hari wafatnya Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, dengan menegaskan bahwa ketahanan dan partisipasi publik menjadi kunci utama dalam menghadapi konflik.
Dalam pesannya, ia mengutip ayat Al-Qur’an dan menyebut kemenangan sebagai berkah ilahi yang lahir dari pengorbanan para martir.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Hari ini dapat dinyatakan dengan tegas bahwa Anda, rakyat heroik Iran, adalah pemenang di arena ini,” ujar Mojtaba Khamenei, dikutip dari Press TV, Jumat, 10 April 2026.
Pemimpin tersebut juga menyinggung serangan pada 28 Februari yang menghancurkan sekolah dasar putri di Minab dan menewaskan sekitar 170 siswi. Ia menilai tragedi itu memperkuat tekad rakyat untuk membangun Iran yang lebih kuat melalui persatuan dan partisipasi aktif.
Ia menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat di ruang publik tetap penting meski ada gencatan senjata dua pekan dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.Menurutnya, suara rakyat di jalan turut memengaruhi jalannya negosiasi.Tetangga Selatan dan Pengelolaan Hormuz
Pemimpin Iran menyerukan negara-negara tetangga di selatan untuk tidak terpengaruh kekuatan besar dan memahami situasi kawasan. Ia juga menuntut tanggung jawab atas kerugian perang, termasuk kompensasi bagi korban.
Selain itu, ia menyatakan Iran akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru. Ia menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, tetapi tidak akan meninggalkan haknya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap propaganda media yang dianggap berpihak pada musuh. Pemerintah disebut telah berupaya mengelola dampak kekurangan akibat perang.
Pemimpin Iran menyebut wafatnya Ayatollah Ali Khamenei sebagai salah satu duka terbesar dalam sejarah negara tersebut. Ia menegaskan semangat untuk menuntut keadilan atas darah para martir tetap hidup di tengah masyarakat.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Ia juga menggambarkan perjuangan Iran sebagai kisah perlawanan heroik yang terus berlanjut. Dukungan publik disebut semakin kuat melalui aksi massa dan solidaritas nasional.
