SEBUAH artikel di majalah Der Spiegel Jerman mencoba menjawab pertanyaan mengenai pihak yang diuntungkan dan dirugikan dari perang Iran.
Media ini menyatakan hanya ada satu pihak yang diuntungkan sementara pihak yang dirugikan sangat banyak, dengan Presiden AS Donald Trump di barisan terdepan.
Artikel tersebut—yang ditulis oleh komentator terkemuka Juliana von Mettlschitt—dikutip Aljazeera, Jumat (10/4/2026) menjelaskan perang selalu berakhir dengan pertanyaan mendasar mengenai siapa pemenang dan siapa yang kalah, dan hal ini sangat berlaku pada konfrontasi terbaru dengan Iran.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Meskipun Trump berusaha menggambarkan dirinya sebagai pemenang, analisis yang disajikan dalam artikel ini justru menunjukkan hal sebaliknya penulis berpendapat bahwa hanya ada satu pemenang dalam pertarungan ini, dan itu bukanlah Trump.
Penulis memulai pandangannya dengan menegaskan bahwa dunia telah terhindar dari bencana yang pasti terjadi, karena Amerika Serikat tidak berhasil menghancurkan peradaban Iran atau mengembalikan negara itu ke zaman batu, suatu hal yang patut disyukuri.
Metschtit mengkritik keras perilaku Trump selama beberapa pekan terakhir, dengan menyebutnya telah mendorong kawasan tersebut ke tepi jurang, mengguncang stabilitasnya, dan menyeretnya ke dalam pusaran kekacauan, yang menimbulkan guncangan hebat bagi perekonomian global.
Namun demikian, Trump kini berusaha mengabaikan fakta-fakta tersebut dan tampil sebagai pemenang, mengabaikan skala kehancuran yang ditinggalkan oleh kebijakannya.
Dalam menjawab pertanyaan tentang siapa pemenang sejati, Metlschitt menjelaskan meskipun ada ketidakpastian mengenai kelanjutan gencatan senjata atau jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Data menunjukkan Korps Garda Revolusi Iran keluar sebagai pihak yang diuntungkan secara signifikan setelah selamat dari serangan Amerika dan Israel serta tetap mampu mengancam kawasan dengan rudal-rudal presisinya.
Selain itu, menurut Metlschitt, rezim Iran telah meraup keuntungan finansial luar biasa dari penjualan minyak, dan berkat kendalinya atas selat tersebut, rezim ini telah berubah menjadi pemain regional dan internasional yang tak terelakkan.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Bahkan, hal ini telah berujung pada upaya Teheran untuk memaksakan pungutan finansial dengan dalih biaya lintas selat kepada kapal tanker energi internasional.
