Abbas Araghchi Soroti Sidang Kasus Korupsi Netanyahu, Jangan Biarkan Israel Bahayakan Gencatan Senjata

Abbas Araghchi
Abbas Araghchi
0 Komentar

MENTERI Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) melakukan tindakan bodoh jika membiarkan Israel membahayakan gencatan senjata regional melalui serangan intensif ke Lebanon.

Serangan udara tersebut terus berlanjut dan telah menewaskan ratusan orang tepat setelah kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku.

Araghchi menyoroti persidangan kasus korupsi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dijadwalkan berlanjut pada Minggu mendatang. Ia mensinyalir bahwa pemimpin Israel tersebut memiliki motif tersembunyi untuk terus melanjutkan peperangan demi kepentingan pribadi.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

“Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat proses pemenjaraannya,” tulis Araghchi melalui media sosial, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat, 10 April 2026.

Araghchi kemudian menyampaikan pesan tegas kepada Amerika Serikat yang sebelumnya membantah bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata awal. Ia memperingatkan dampak ekonomi yang akan diderita Washington jika diplomasi ini gagal.

“Jika AS berniat menghancurkan ekonominya sendiri dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, itu adalah pilihan mereka. Kami pikir itu tindakan bodoh, tetapi kami siap menghadapinya,” tegas Araghchi.

Pernyataan Menlu Iran ini merupakan bentuk balasan terhadap retorika Wakil Presiden AS JD Vance yang sebelumnya memperingatkan Iran agar tidak membiarkan gencatan senjata berantakan karena isu Lebanon. Vance menyebut bahwa kegagalan gencatan senjata akibat sikap Iran akan menjadi pilihan yang bodoh.

Sejak gencatan senjata diumumkan pada Selasa lalu, perbedaan pendapat mengenai apakah kesepakatan itu berlaku untuk Lebanon telah menjadi ancaman utama bagi masa depan perdamaian.

Pejabat dan media Iran mengisyaratkan bahwa Teheran mungkin akan merespons secara militer terhadap serangan Israel di Lebanon atau memblokade Selat Hormuz guna memastikan Lebanon masuk dalam cakupan gencatan senjata.

Pada hari Kamis, Presiden Donald Trump mengaku telah meminta pemerintah Israel untuk mengurangi intensitas operasi militer mereka di Lebanon. Dalam wawancara dengan NBC News, Trump mengatakan telah berbicara dengan Netanyahu agar bersikap lebih menahan diri dalam melancarkan serangan.

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

Senada dengan Trump, JD Vance juga mengeklaim pada hari Rabu bahwa pihak Israel telah setuju untuk sedikit membatasi diri di wilayah Lebanon. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda di mana serangan Israel tidak menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun Lebanon baru saja melewati salah satu hari paling berdarah dalam sejarahnya dengan korban tewas melampaui 300 orang.

0 Komentar