ISRAEL melancarkan serangan terbesar ke Lebanon sejak menginvasi negara itu bulan lalu, meningkatkan intensitas operasi militernya melawan Hizbullah (pihak yang bersekutu dengan Iran) dalam sebuah operasi yang menewaskan setidaknya 200 orang.
Militer Israel mengatakan bahwa mereka menargetkan lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hizbullah dalam waktu 10 menit pada hari Rabu. Termasuk di dalamnya adalah pemboman di beberapa bagian pusat kota Beirut, dengan serangan yang dilaporkan tanpa peringatan di kawasan pemukiman dan komersial padat di seluruh ibu kota.
Serangan tersebut terjadi beberapa jam pasca Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata awal dengan Iran, menimbulkan kebimbangan apakah kampanye Israel melawan Hezbollah termasuk dalam kesepakatan tersebut.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Pejabat Iran terkemuka, termasuk Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf, mengatakan serangan yang sedang berlangsung merupakan pelanggaran gencatan senjata, meskipun Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Washington tidak pernah merekomendasikan peperangan antara Israel dan Hezbollah akan berhenti.
“Kami tidak pernah membuat janji itu. Kami tidak pernah mengindikasikan bahwa hal itu akan terjadi,” katanya saat berkunjung ke Hongaria.
Iran dapat menarik diri dari kesepakatan tersebut jika Israel terus melanjutkan kampanyenya di Lebanon, menurut kantor berita Tasnim, sementara lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dihentikan sebagai respons terhadap serangan tersebut, kata Fars.
Upaya diplomatik terus berlanjut, dengan para pejabat AS dan Iran dijadwalkan memulai pembicaraan di Islamabad pada hari Sabtu. Pada hari Kamis, terlihat tanda-tanda bahwa gencatan senjata sebagian besar masih berlaku, meskipun Israel terus menyerang sasaran-sasaran di Lebanon selatan pada hari Kamis.
Vance mengatakan bahwa Israel telah setuju untuk “menahan diri sedikit di Lebanon” guna mendukung pembicaraan tersebut.
Aksi Israel menyebabkan ledakan di beberapa kawasan Beirut, sementara rekaman di media sosial menunjukkan debu tebal dan asap hitam menyelimuti sebagian kota. Gedung apartemen dan kawasan komersial yang ramai terkena serangan, memaksa warga untuk mengungsi ke jalan-jalan.
Hizbullah mengatakan mereka menembakkan roket ke arah utara Israel sebagai balasan.
