Sederet Point Penting Jadi Misteri Gencatan Senjata Amerika Serikat-Iran

Ilustrasi Perang Iran vs Amerika Serikat-Israel
Ilustrasi Perang Iran vs Amerika Serikat-Israel
0 Komentar

Walau Hizbullah dilaporkan menghentikan serangan pada Rabu (8/4/2026), Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan operasi militernya.

Pada hari yang sama, militer Israel justru meluncurkan serangan udara terbesar terhadap Hizbullah sepanjang perang. Pasukan Pertahanan Israel mengeklaim lebih dari 100 target dihantam hanya dalam waktu 10 menit.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 112 orang tewas dan lebih dari 800 orang terluka hingga Rabu malam waktu setempat. Sementara itu, Pertahanan Sipil Lebanon menyebut jumlah korban tewas lebih tinggi, mencapai 254 orang. Merespons serangan brutal Israel, Presiden Lebanon Joseph Aoun bahkan menuduh Israel telah melakukan pembantaian terhadap warganya.

Siapa yang Kendalikan Selat Hormuz?

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Siapa yang akan mengendalikan Selat Hormuz setelah gencatan senjata berlaku, menjadi pertanyaan besar berikutnya. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Selama perang AS-Israel terhadap Iran berlangsung, Iran tak hanya memperketat pengawasan terhadap jalur tersebut, namun juga menutup selat sehingga memicu kekacauan di pasar energi global.

Bagi pemerintahan Trump, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu syarat utama gencatan senjata.

Namun beberapa versi rencana perdamaian Iran justru mengusulkan agar Teheran tetap mempertahankan kendali atas selat tersebut. Iran juga mencetuskan ide untuk mengenakan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi jalur air ini.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan itu, Trump mengisyaratkan kemungkinan kerja sama keamanan antara AS dan Iran.

Ia menyebut kedua negara dapat mengamankan Selat Hormuz melalui usaha patungan. Namun hingga kini belum jelas bagaimana mekanisme kerja sama tersebut akan diterapkan.

Ketika ditanya apakah AS akan menerima jika Iran mengenakan biaya, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, hal itu bukanlah sesuatu yang telah AS nyatakan secara pasti bahwa akan menerimanya.

Leavitt menambahkan bahwa usulan kerja sama tersebut masih sebatas gagasan yang diajukan Trump.

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

“Beliau sangat jelas dalam pernyataannya tadi malam. Beliau ingin melihat selat tersebut dibuka kembali segera tanpa batasan,” tambahnya.

Masa Depan Rudal Iran

Selain Selat Hormuz, isu penting lainnya yang menjadi perhatian utama AS selama ini adalah masa depan rudal Iran.

0 Komentar