KRITIK keras Paus Leo XIV terhadap “nafsu perang” Presiden Donald Trump dan Doktrin Donroe yang baru ternyata bukan hanya menuai kemarahan Pentagon. Menurut laporan The Free Press yang dikutip, seorang pejabat tinggi Pentagon disebut-sebut menyinggung “masa kepausan Avignon abad ke-14” saat mengancam utusan Vatikan, Kardinal Christophe Pierre.
Ancaman itu bukan sekadar kata-kata. Bagi sejarawan Gereja, penyebutan “abad ke-14” langsung membawa ingatan ke salah satu periode paling kelam dalam sejarah kepausan: era pembunuhan, perbudakan, dan “pembunuhan” kedaulatan paus oleh kekuasaan sekuler.
Semuanya bermula tahun 1309, ketika Paus Klemens V – atas tekanan Raja Philip IV dari Prancis – memindahkan takhta kepausan dari Roma ke Avignon, Prancis selatan. Yang dimulai sebagai “perlindungan sementara” berubah menjadi penawanan total selama 68 tahun (1309–1377), yang kemudian dikenal sebagai “Babylonian Captivity” atau Pembuangan Babel bagi Gereja Katolik.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Selama periode itu, tujuh paus berturut-turut hidup di bawah bayang-bayang mahkota Prancis. Philip IV tidak hanya menguasai pemilihan kardinal, tetapi juga menguras keuangan Vatikan untuk membiayai Perang Seratus Tahun melawan Inggris. Paus-paus Avignon menjadi semacam “bendahara perang” kerajaan. Yang menolak, menghadapi nasib tragis.
Bukan kebetulan, periode ini juga diwarnai kematian-kematian mencurigakan dan intrik pembunuhan politik:Paus Klemens V sendiri (1305–1314) meninggal secara mendadak setelah menandatangani penghancuran Ordo Knights Templar atas perintah Philip IV. Banyak sejarawan menduga racun.
Paus Yohanes XXII (1316–1334) harus menghadapi tuduhan sihir dan upaya pembunuhan berulang dari kelompok-kelompok yang tidak puas dengan dominasi Prancis.
Ketegangan terus berlanjut hingga Paus Gregorius XI akhirnya memindahkan kembali takhta ke Roma tahun 1377, tapi malah memicu Skisma Barat (1378–1417) di mana dua, bahkan tiga paus bersaing mengklaim tahta suci secara bersamaan.
Sejarawan Gereja menyebut abad ke-14 sebagai “masa pembunuhan paus” bukan karena semua paus mati dibunuh dengan pedang, melainkan karena kedaulatan spiritual Paus dibunuh secara sistematis oleh kekuasaan duniawi. Paus bukan lagi pemimpin umat Katolik universal, melainkan boneka politik raja Prancis.
