Hasil Studi FEB Universitas Indonesia: Ketegangan Geopolitik Timur Tengah di Selat Hormuz Ujian Ketahanan BUMN

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. - (Wikimedia Commons)
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. - (Wikimedia Commons)
0 Komentar

KETEGANGAN geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz, dinilai menjadi ujian serius bagi ketahanan badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia. Hal itu terungkap dalam policy brief yang dirilis BUMN Research Group (BRG) LM FEB UI terkait dampak krisis energi global terhadap kinerja BUMN.

Analisis Ekonomi Global

Dalam kajian tersebut, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada awal 2026 telah mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga melampaui US$90 per barel. Kondisi ini berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), mengingat asumsi harga minyak Indonesia ditetapkan di level US$70 per barel.

“Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, Indonesia menghadapi dampak langsung dari kenaikan harga tersebut, terutama melalui peningkatan beban subsidi dan kompensasi energi,” ucap Toto Pranoto, Managing Partner BRG LM FEB UI dikutip dari keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (28/3).

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Studi ini menemukan dampak gejolak geopolitik terhadap BUMN bersifat asimetris. Sejumlah perusahaan menghadapi tekanan biaya yang signifikan, sementara sebagian lainnya justru memperoleh keuntungan dari kenaikan harga komoditas global.

BUMN di sektor energi dan transportasi menjadi kelompok yang paling terdampak. Pertamina menanggung beban impor energi dengan margin yang relatif terbatas. PLN menghadapi tekanan dari kontrak berbasis dolar AS dan kesenjangan tarif listrik. Sementara itu, Garuda Indonesia terdampak kenaikan biaya avtur yang menjadi komponen utama operasional.

Kajian Kebijakan Publik

Selain itu, tekanan juga dirasakan oleh sektor infrastruktur dan industri seperti ASDP Indonesia Ferry, BUMN karya, serta Pupuk Indonesia akibat kenaikan harga bahan baku dan gangguan rantai pasok.

Di sisi lain, BUMN berbasis komoditas justru memperoleh keuntungan. Bukit Asam diuntungkan kenaikan harga batu bara, sementara sektor mineral seperti Freeport Indonesia, MIND ID, Timah, dan Antam mendapatkan manfaat dari penguatan harga komoditas global.

“Kondisi ini menunjukkan adanya potensi ‘natural hedge’ dalam portofolio BUMN, di mana keuntungan dari sektor komoditas dapat mengimbangi tekanan di sektor lain. Namun, mekanisme koordinasi antar-BUMN dinilai belum optimal untuk memanfaatkan potensi tersebut,” sebutnya.

0 Komentar