DIREKTORAT Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri membeberkan rincian jenis narkotika serta nilai transaksi yang dikelola oleh Andre Fernando alias The Doctor. Bandar yang berperan sebagai perantara ini diketahui mengedarkan berbagai jenis barang haram, mulai dari sabu-sabu hingga obat keras jenis etomidate.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Eko Hadi Santoso, menjelaskan bahwa seluruh pasokan narkotika yang diedarkan Andre berasal dari dua atasannya, yakni Hendra dan Tomy. Transaksi Sabu dan Happy Five dari Jaringan Hendra
Berdasarkan keterangan tertulis pada Rabu (8/4/2026), Andre tercatat mengambil pasokan sabu-sabu dari Hendra sebanyak dua kali pada Februari 2026 dengan total 5 kilogram.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Dari Hendra ada 2 kilogram dan 3 kilogram pada bulan Februari 2026 dengan harga per kilonya Rp380 juta dalam Mata Uang Rupiah. Sabu-sabu itu kemudian dijual kepada Arfan Yulius Lauw seharga Rp390 juta per kilogram,” ungkap Brigjen Eko.
Selain sabu, Andre juga menyuplai psikotropika jenis Happy Five dan etomidate kepada pelanggan bernama INS alias Mami Mika:
Happy Five: 50 bungkus (Desember 2025). Harga beli Rp1,8 juta per buah, dijual Rp2 juta per buah.Etomidate Kecil: 500 buah (Januari 2026). Harga beli Rp1,6 juta per buah, dijual Rp1,8 juta per buah.
Pasokan Etomidate dari Jaringan Tomy
Selain dari Hendra, Andre juga mendapatkan pasokan etomidate dalam jumlah besar dari atasannya yang lain, Tomy. Seluruh barang dari jaringan ini juga disalurkan kepada Mami Mika.
Bareskrim Polri sebelumnya telah mengidentifikasi Andre Fernando sebagai pemasok utama bagi sindikat Koko Erwin di Bima, NTB, serta jaringan narkoba di tempat hiburan malam White Rabbit, Jakarta. Meski memiliki peran krusial sebagai distributor, Andre ditegaskan hanya bertindak sebagai perantara bagi dua bos besarnya yang tidak saling mengenal.
Hingga saat ini, penyidik masih terus mendalami aliran dana dari transaksi bernilai miliaran dalam Mata Uang Rupiah tersebut guna melacak keberadaan aset-aset lain milik jaringan “The Doctor”
