Selain itu, klaim AS bahwa pertahanan udara Iran telah melemah dan tidak ada hambatan bagi mereka untuk melakukan operasi penyelamatan di wilayah tersebut tampaknya terbantahkan oleh fakta lapangan yang terjadi.
Tasnim menulis, rangkaian insiden ini semakin memperjelas tantangan besar yang dihadapi Washington dalam mempertahankan superioritas militernya di tengah eskalasi konflik yang terus berlanjut.
Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa militer AS telah meledakkan beberapa pesawat tua sebagai bagian dari operasi yang bertujuan menyelamatkan pilot yang melontarkan diri dari pesawat di Iran.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Kami meledakkan pesawat-pesawat tua itu. Kami meledakkannya hingga berkeping-keping, karena kami memiliki peralatan di pesawat-pesawat itu yang, jujur saja, ingin kami bawa, tetapi saya rasa tidak ada gunanya menghabiskan empat jam lagi di sana,” kata Trump saat konferensi pers.
“Jadi kami tidak menginginkan siapa pun; kami memiliki peralatan terbaik di dunia. Kami tidak ingin siapa pun memeriksa peralatan anti-pesawat dan peralatan kami lainnya,” imbuhnya.
Pada Jumat, media AS melaporkan bahwa AS telah meluncurkan operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran menyusul jatuhnya pesawat tempur-pengebom supersonik F-15E Strike Eagle di atas wilayah Iran. Salah satu dari dua pilot segera ditemukan. Trump kemudian mengumumkan bahwa pilot kedua dari jet F-15E Amerika yang ditembak jatuh di Iran telah diselamatkan dan dalam keadaan aman.
Menurut presiden, puluhan pesawat AS turut serta dalam operasi penyelamatan tersebut. Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai menyerang sasaran di Iran, termasuk Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan dan menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil. Iran melakukan serangan balasan di wilayah Israel, serta sasaran militer AS di Timur Tengah.
