Pakar: Adanya 'Penurunan Perilaku' Signifikan Donald Trump, Tanda-Tanda 'Demensia Frontotemporal'

Dr John Gartner, seorang psikolog klinis dan mantan asisten profesor di Universitas Johns Hopkins, berpendapat
Dr John Gartner, seorang psikolog klinis dan mantan asisten profesor di Universitas Johns Hopkins, berpendapat bahwa Trump telah menunjukkan 'penurunan besar'. (Tangkapan layar YouTube)
0 Komentar

Dalam sebuah iklan satu halaman penuh di New York Times, kelompok ini berargumen bahwa kandidat dari Partai Republik tersebut merupakan “ancaman eksistensial terhadap demokrasi.”

Forbes melaporkan, kesehatan Presiden Trump terus berada di bawah pengawasan ketat sejak awal masa jabatan keduanya, mengingat statusnya sebagai orang tertua yang pernah dilantik dalam sejarah AS. Selama setahun terakhir, publik kerap menyoroti penampakan memar serta penggunaan plester di tangan sang Presiden.

Kejadian terbaru terekam di Trump National Golf Club, Sterling, Virginia, pada Ahad (5/4/2026). Dalam sebuah foto yang diunggah oleh influencer Megan Marie ke Instagram, tampak jelas plester menutupi jari telunjuk dan ibu jari Trump.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Menanggapi spekulasi yang berkembang, dokter kepresidenan menjelaskan bahwa memar di tangan tersebut disebabkan oleh aktivitas bersalaman yang terlalu sering, ditambah dengan konsumsi rutin aspirin sebagai bagian dari rejimen pencegahan kardiovaskular.

Selain masalah tangan, Trump juga sempat terlihat dengan kondisi pergelangan kaki yang bengkak. Pihak Gedung Putih tahun lalu mengungkapkan bahwa Trump telah didiagnosis menderita insufisiensi vena kronis, sebuah kondisi yang umum dialami oleh warga lanjut usia.

Kekhawatiran publik mengenai penurunan kondisi fisik maupun mental semakin menguat setelah beredarnya beberapa rekaman yang menunjukkan Trump tampak tertidur di acara-acara publik, serta adanya sejumlah kesalahan faktual yang signifikan dalam pidato-pidatonya. Kondisi ini kian memicu diskusi luas mengenai kebugaran sang Presiden dalam memimpin negara di tengah krisis yang sedang berlangsung.

0 Komentar