Pakar: Adanya 'Penurunan Perilaku' Signifikan Donald Trump, Tanda-Tanda 'Demensia Frontotemporal'

Dr John Gartner, seorang psikolog klinis dan mantan asisten profesor di Universitas Johns Hopkins, berpendapat
Dr John Gartner, seorang psikolog klinis dan mantan asisten profesor di Universitas Johns Hopkins, berpendapat bahwa Trump telah menunjukkan 'penurunan besar'. (Tangkapan layar YouTube)
0 Komentar

PAKAR psikologi dan medis menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait adanya ‘penurunan perilaku’ signifikan yang ditunjukkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Kekhawatiran ini menyusul serangkaian ancaman eksplosif yang dilontarkan presiden dari Partai Republik tersebut melalui media sosial terhadap Iran.

Dr John Gartner, mantan profesor di Universitas Johns Hopkins, menyatakan, Trump telah menunjukkan tanda-tanda “demensia frontotemporal” sejak 2019. Dalam sebuah wawancara pada Senin (6/4/2026), Gartner memperingatkan, penurunan kondisi tersebut kini berakselerasi sangat cepat.

“Hal yang paling mengkhawatirkan bagi dunia adalah bahwa penderita demensia frontotemporal kehilangan seluruh penilaian, hambatan diri, dan kemampuan untuk mengendalikan perilaku mereka. Mereka menjadi agresif dan tidak terkendali,” ujar Gartner seperti dilansir dari Al Mayadeen.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Ia menyoroti kasarnya kalimat yang diunggah Trump di platform Truth Social pada pagi di saat Hari Paskah, hari yang dihormati umat Katolik. Dalam unggahan tersebut, presiden berusia 79 tahun itu mengancam akan menyasar infrastruktur sipil di Iran.

Trump menulis: “Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan di Iran… Buka Selat (Hormuz) itu, atau kalian akan hidup di neraka—LIHAT SAJA! Praise be to Allah. Presiden DONALD J. TRUMP.”

Gartner menekankan, demensia jenis ini merupakan masalah perilaku yang serius, bukan sekadar masalah ingatan.

Gartner bukanlah satu-satunya pakar yang bersuara. Analis medis MSNBC, Dr. Vin Gupta, melalui unggahan di media sosial X, juga menyebutkan bahwa sang presiden menunjukkan tanda-tanda demensia seperti bicara yang tidak menentu, sulit menyelesaikan kalimat, dan pola pikir yang tidak logis.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait kondisi kesehatan presiden. Namun, seiring perang AS-Israel melawan Iran yang memasuki pekan keenam, retorika Trump dinilai semakin ekstrem—dari ultimatum pembukaan Selat Hormuz hingga ancaman “pemusnahan” infrastruktur energi.

Kesehatan mental Donald Trump memang sudah dipertanyakan pada 2024 lalu. Kala itu, sebuah kelompok anti-Trump mengorganisir surat terbuka yang ditandatangani oleh lebih dari 200 profesional kesehatan mental. Mereka memperingatkan, Trump berbahaya karena gejala “narsisme malignan”—sebuah gangguan kepribadian parah yang membuatnya dianggap “sangat tidak layak untuk memimpin.”

0 Komentar