Georgieva mengatakan beberapa negara telah meminta bantuan pendanaan, meski tidak merinci negara mana saja. IMF juga dapat memperluas program pinjaman yang ada untuk memenuhi kebutuhan negara-negara tersebut. Sebanyak 85 persen anggota IMF merupakan negara pengimpor energi.
Subsidi energi secara luas bukan solusi, ujarnya, seraya mengingatkan pembuat kebijakan agar menghindari kebijakan yang justru dapat memperparah tekanan inflasi.
Dampak perang bersifat asimetris, paling berat dirasakan negara pengimpor energi. Namun, negara pengekspor energi seperti Qatar juga terdampak akibat serangan Iran terhadap fasilitas produksinya.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Qatar diperkirakan membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun untuk memulihkan 17 persen produksi gas alamnya akibat kerusakan tersebut. Sementara itu, Badan Energi Internasional melaporkan sebanyak 72 fasilitas energi rusak akibat perang, sepertiganya mengalami kerusakan berat.
“Bahkan jika perang berhenti hari ini, dampak negatifnya akan tetap terasa bagi dunia,” ujar Georgieva.
Setelah AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, yang mendorong lonjakan harga minyak mentah dan gas alam cair. Harga minyak Brent internasional berada di kisaran 110 dolar AS per barel pada Senin.
Pimpinan IMF, Badan Energi Internasional, dan Bank Dunia pekan lalu menyatakan akan membentuk upaya terkoordinasi untuk menilai dampak energi dan ekonomi dari perang tersebut.
Georgieva mengatakan IMF juga berkoordinasi dengan Program Pangan Dunia (World Food Programme) dan Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization) terkait ketahanan pangan.
Program Pangan Dunia menyatakan pada pertengahan Maret bahwa jutaan orang berpotensi menghadapi kelaparan akut jika perang berlanjut hingga Juni. Georgieva menilai krisis pangan belum terjadi saat ini, tetapi risiko tersebut dapat meningkat jika distribusi pupuk terganggu.
