ID Food Curhat Kesulitan Kemasan, Kelangkaan Biji Plastik Berimbas ke Harga

Direktur Utama (Dirut) ID Food, Ghimoyo di ruang Komisi IV DPR, jakarta, Selasa (7/4/2026). (Foto: Dok. TV Par
Direktur Utama (Dirut) ID Food, Ghimoyo di ruang Komisi IV DPR, jakarta, Selasa (7/4/2026). (Foto: Dok. TV Parlemen).
0 Komentar

DIREKTUR Utama (Dirut) ID Food, Ghimoyo mengungkapkan permasalahan serius yang dihadapi saat ini. Yaitu kelangkaan biji plastik yang berdampak kepada harga.

“Kami kesulitan, yang sekarang lagi viral. Bukan lagi viral (tetapi) sangat terasa di pihak kami, sebagai pemain pangan, yaitu kesulitan kemasan. Jadi di semua pabrik-pabrik itu sudah mulai terasa kelangkaan biji plastik,” jelas Ghimoyo dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

Ia menilai, permasalahan ini, jauh lebih krusial karena seluruh produk pangan, pupuk hingga beras menggunakan kemasan plastik. “Lalu kemasan-kemasan kiloan, minyak goreng juga menggunakan bahan yang sama,” ujarnya.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Sebelumnya, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, mengaku sedang menyiapkan langkah mitigasi untuk meredam kenaikan biaya bahan baku plastik, akibat ketidakpastian pasokan global tersebut.

Maman menegaskan, kenaikan tersebut berdampak langsung kepada pelaku usaha kecil, terutama terkait biaya plastikyang digunakan sebagai kemasan. “Sudah ada aspirasi yang masuk. Kebutuhan plastik untuk bungkus, memang naik harga. Namun, kami akan menyiapkan langkah mitigasinya,” ujar Maman di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Kementerian UMKM rencananya akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk menentukan langkah penanganan. Namun, Maman menyebut pembahasan tersebut masih dalam tahap awal sehingga detail teknisnya belum dapat dirinci.

Harga plastik domestik dilaporkan melonjak antara 30 persen hingga 80 persen. Kenaikan ekstrem ini terjadi seiring memanasnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, yang mengganggu distribusi nafta sebagai bahan baku utama plastik.

Lonjakan harga minyak global dan gangguan pasokan bahan baku turunan minyak bumi menjadi pemicu utama yang mengancam biaya operasional UMKM yang bergantung pada kemasan plastik.

0 Komentar