MENTERI Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap datang dari pihak yang tidak memahami kondisi masyarakat miskin.Ia menilai program gagasan Presiden Prabowo Subianto itu tak hanya soal bantuan pangan, tetapi juga berdampak luas terhadap perekonomian desa.
“MBG jangan dilihat berdiri sendiri. Ini penggerak ekonomi di desa, dari hortikultura, sayur-sayuran, penjual ayam, telur, semua bergerak dari hulu sampai hilir. Mungkin yang mengkritik tidak pernah merasakan miskin,” kata Amran di Hotel Pantai Gapura, Makassar, Senin (6/4).
Amran menuturkan program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama bagi anak-anak yang rentan kekurangan gizi.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Menurutnya, kebijakan ini tidak berorientasi politik jangka pendek lantaran penerima manfaatnya belum menjadi pemilih dalam pemilihan umum, termasuk pemilihan presiden.
“Ini investasi untuk anak-cucu kita. Anak SD, SMP, SMA belum ikut pemilihan (umum). Artinya ini betul-betul gagasan untuk generasi ke depan. Kita tidak boleh ego, banyak anak-anak kita yang kelaparan, stunting kita masih 21 persen,” ujarnya.
Amran juga menekankan MBG berperan sebagai penggerak ekonomi desa karena menciptakan permintaan langsung terhadap produk pertanian dan peternakan. Ia menyebut jutaan pelaku usaha kecil ikut merasakan dampaknya.
“Bayangkan kalau Rp300 triliun bergerak di desa. Peternak ayam, telur, sapi, kambing itu bergerak semua. Ada 3,8 juta peternak kita, ini menjadi off-taker untuk sayur, telur, ayam, daging,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga mengintegrasikan MBG dengan program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih untuk memangkas rantai distribusi yang panjang. Dengan skema itu, produk dari petani bisa langsung disalurkan ke konsumen melalui koperasi.
“Kalau ada koperasi (desa), dari petani langsung ke koperasi di desa lalu ke konsumen. Rantai pasok yang dulu delapan jadi tiga. Keuntungan yang tadinya besar di middleman bisa berpindah ke petani dan konsumen,” jelasnya.
Menurut Amran, kombinasi MBG, Kopdes Merah Putih, dan hilirisasi sektor pangan dirancang sebagai satu kesatuan untuk memperkuat ekonomi desa sekaligus menjaga stabilitas harga.
