ANGGOTA Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Firman Soebagyo, meluapkan kegelisahannya soal kedaulatan data nasional yang dianggapnya masih compang-camping. Firman menegaskan, Indonesia tidak boleh terus-menerus mendewakan teknologi asing, apalagi sampai bergantung pada pinjaman luar negeri untuk urusan data geospasial.
Sentilan ini ia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Badan Informasi Geospasial (BIG), Senin (6/4/2026). Firman memulai interupsinya dengan menyinggung pentingnya presisi data dalam konteks pertahanan, belajar dari ketepatan rudal Iran.
“Aksesibilitas sistem informasi geospasial memerlukan keterampilan teknis. Ini menyangkut tadi instrumen, menyangkut sumber daya manusia karena bagaimana kita mau perang, kalau kita tidak punya data yang presisi. Saya terus terang salut sama Iran begitu dia punya rudal, bisa presisi sekali,” kata Firman di gedung DPR.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Legislator dari Fraksi Golkar ini menyayangkan jika lembaga yang bertanggung jawab atas data strategis nasional justru masih mengandalkan pinjaman luar negeri. Menurutnya, hal ini merupakan sebuah ironi di tengah pentingnya fungsi data tersebut.
“Bahwa sangat ironis sebuah lembaga yang bertanggung jawab terhadap data nasional ini harus menggunakan dana pinjaman. Kalau saya jadi Menkeu, menganggap penting nggak data ini? Saya mengatakan di atas segala-segalanya,” ujar anggota Komisi IV DPR itu.
Firman mengingatkan adanya konsekuensi logis atau komitmen tertentu yang biasanya menyertai pinjaman dari pihak asing. Ia mengkhawatirkan adanya akses data yang harus diserahkan kepada pemberi pinjaman.
“Kalau Bapak loan dari luar negeri, tidak ada yang namanya, no free lunch, no free lunch. Tidak ada makan siang gratis, Pak. Mesti ada persyaratan. Persyaratannya adalah data Bapak harus diserahkan kepada yang memberikan pinjaman. Makanya saya paling alergi, yang namanya donor country itu memberikan bantuan program riset kepada NGO-NGO. Ini yang merusak negara, Pak,” tambahnya.
Lebih lanjut, Firman mengingatkan pemerintah agar tidak terlalu mengandalkan penyedia layanan data global seperti Google. Ia mencontohkan ketidakakuratan data navigasi saat musim mudik yang justru menyulitkan masyarakat.
“Tadi Bapak juga menyampaikan bahwa kita ada AI ada Google. Google itu, Pak, menjerumuskan orang juga. Jangan percaya dengan Google. Kemarin waktu pulang Lebaran itu, banyak yang ke pelosok-pelosok masuk ke kampung-kampung. Ini kan masalah data,” tuturnya.
