“Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Kepentingan rakyat Amerika mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini? Apakah ada ancaman objektif dari Iran yang dapat membenarkan perilaku tersebut? Apakah pembantaian anak-anak yang tidak bersalah, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, atau membual tentang membom sebuah negara “hingga kembali ke zaman batu” memiliki tujuan lain selain semakin merusak kedudukan global Amerika Serikat?,” ujarnya.
Iran Klaim Telah Menempuh Jalur Diplomasi
Pezeshkian menyatakan bahwa Iran telah berupaya menempuh jalur negosiasi, mencapai kesepakatan, dan memenuhi komitmen yang ada. Namun, ia menilai keputusan pemerintah Amerika Serikat untuk menarik diri dari kesepakatan, meningkatkan ketegangan, serta melakukan dua aksi militer di tengah proses diplomasi sebagai langkah destruktif.
Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pilihan yang tidak konstruktif dan didorong oleh kepentingan pihak luar.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Selain merupakan kejahatan perang, tindakan tersebut membawa konsekuensi yang meluas jauh melampaui perbatasan Iran. Tindakan ini menimbulkan ketidakstabilan, meningkatkan korban jiwa dan biaya ekonomi, serta melanggengkan siklus ketegangan, menanam benih kebencian yang akan bertahan selama bertahun-tahun. Ini bukanlah demonstrasi kekuatan; ini adalah tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti serangan terhadap infrastruktur vital Iran, termasuk fasilitas energi dan industri, yang menurutnya secara langsung berdampak pada kehidupan rakyat. Ia menilai tindakan tersebut tidak hanya melanggar hukum perang, tetapi juga memicu ketidakstabilan yang lebih luas, meningkatkan korban jiwa, memperbesar beban ekonomi, serta memperpanjang siklus konflik dan kebencian.
Menurutnya, situasi ini bukan menunjukkan kekuatan, melainkan mencerminkan kebingungan strategi dan ketidakmampuan mencapai solusi jangka panjang.
Soroti Dugaan Pengaruh Israel terhadap Kebijakan Amerika Serikat
Dalam pernyataannya, Pezeshkian juga mempertanyakan apakah Amerika Serikat terlibat dalam konflik tersebut sebagai proksi dari Israel. Ia menilai ada upaya untuk membentuk persepsi ancaman dari Iran guna mengalihkan perhatian dunia dari isu lain di kawasan, khususnya yang berkaitan dengan Palestina.
Ia juga mempertanyakan apakah kebijakan tersebut sejalan dengan kepentingan utama Amerika Serikat, merujuk pada slogan “America First”.
