Pezeshkian menambahkan bahwa ketidakpercayaan itu semakin menguat seiring dukungan Amerika terhadap rezim Shah, dukungannya kepada Saddam Hussein selama perang pada 1980-an, penerapan sanksi yang berkepanjangan, serta aksi militer yang disebutnya terjadi tanpa provokasi, termasuk saat proses negosiasi berlangsung.
“Namun, titik baliknya adalah kudeta tahun 1953 – intervensi ilegal Amerika yang bertujuan mencegah nasionalisasi sumber daya Iran sendiri. Kudeta tersebut mengganggu proses demokrasi Iran, mengembalikan kediktatoran, dan menabur ketidakpercayaan yang mendalam di kalangan rakyat Iran terhadap kebijakan AS,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai tekanan tersebut, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran tidak melemah. Ia justru menilai negaranya mengalami kemajuan di berbagai sektor.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Menurutnya, tingkat melek huruf di Iran meningkat signifikan, dari sekitar 30 persen sebelum Revolusi Iran 1979 menjadi lebih dari 90 persen saat ini. Selain itu, pendidikan tinggi berkembang pesat, kemajuan dalam teknologi modern terus dicapai, layanan kesehatan meningkat, serta pembangunan infrastruktur berlangsung dengan kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Namun, semua tekanan ini gagal melemahkan Iran. Sebaliknya, negara ini justru semakin kuat di banyak bidang: tingkat melek huruf meningkat tiga kali lipat – dari sekitar 30 persen sebelum Revolusi Islam menjadi lebih dari 90 persen saat ini; pendidikan tinggi berkembang pesat; kemajuan signifikan telah dicapai dalam teknologi modern; layanan kesehatan telah meningkat; dan infrastruktur telah berkembang dengan kecepatan dan skala yang tidak tertandingi di masa lalu. Ini adalah realitas yang terukur dan dapat diamati, yang berdiri sendiri terlepas dari narasi yang dibuat-buat,” tulisnya.
Di sisi lain, Pezeshkian juga menyoroti dampak serius dari sanksi, perang, dan agresi terhadap kehidupan masyarakat Iran. Ia menyebut tekanan tersebut memiliki konsekuensi yang destruktif dan tidak manusiawi bagi rakyat.
Ia menambahkan bahwa kelanjutan agresi militer dan pemboman baru-baru ini telah memengaruhi kehidupan sehari-hari, sikap, serta perspektif masyarakat Iran. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan realitas mendasar bahwa ketika perang merusak kehidupan, tempat tinggal, kota, dan masa depan, masyarakat tidak akan bersikap acuh terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab.
