DI tengah meningkatnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat, Presiden Iran Masoud Pezeshkian merilis surat terbuka yang ditujukan langsung kepada rakyat Amerika Serikat pada Kamis (2/4/2026) melalui platform X.
Dalam pesannya, Pezeshkian menekankan bahwa Iran merupakan salah satu peradaban tertua di dunia yang tidak pernah memulai perang di era modern. Ia menyatakan bahwa, terlepas dari keunggulan historis dan geografis yang dimiliki pada berbagai periode, Iran tidak pernah memilih jalur agresi, ekspansi, kolonialisme, maupun dominasi.
Ia juga menyampaikan bahwa meskipun Iran pernah mengalami pendudukan, invasi, dan tekanan berulang dari kekuatan global—serta memiliki keunggulan militer atas banyak negara tetangganya—Iran tidak pernah memulai perang. Namun demikian, Iran disebut selalu bersikap tegas dan berani dalam menghadapi pihak yang menyerangnya.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Iran—dengan nama, karakter, dan identitasnya sendiri–adalah salah satu peradaban tertua yang berkelanjutan dalam sejarah manusia. Terlepas dari keunggulan historis dan geografisnya pada berbagai waktu, Iran, dalam sejarah modernnya, tidak pernah memilih jalan agresi, ekspansi, kolonialisme, atau dominasi,” tulisnya dalam surat tersebut.
“Bahkan setelah mengalami pendudukan, invasi, dan tekanan terus-menerus dari kekuatan global—dan meskipun memiliki keunggulan militer atas banyak negara tetangganya—Iran tidak pernah memulai perang. Namun, Iran dengan tegas dan berani telah memukul mundur mereka yang menyerangnya,” tulisnya.
Rakyat Iran Tidak Memusuhi Warga Amerika
Dalam surat tersebut, Pezeshkian menegaskan bahwa rakyat Iran tidak memusuhi masyarakat Amerika di tengah konflik yang berlangsung. Ia juga mempertanyakan alasan di balik aksi militer Washington.
Menurutnya, masyarakat Iran secara konsisten membedakan antara pemerintah suatu negara dan rakyatnya. Prinsip ini disebut telah mengakar kuat dalam budaya dan kesadaran kolektif Iran, bukan sekadar sikap politik sementara. Ia menambahkan bahwa rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk masyarakat Amerika, Eropa, maupun negara-negara tetangga.
“Rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, atau negara-negara tetangga. Bahkan di tengah intervensi dan tekanan asing yang berulang kali sepanjang sejarah mereka yang membanggakan, rakyat Iran secara konsisten membedakan dengan jelas antara pemerintah dan rakyat yang mereka pimpin. Ini adalah prinsip yang berakar kuat dalam budaya dan kesadaran kolektif Iran—bukan sikap politik sementara,” ujarnya.
