Rusia, Tiongkok dan Prancis Tolak Resolusi DK PBB yang Izinkan Penggunaan Kekuatan Militer di Selat Hormuz

Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan untuk membahas situasi di Timur Tengah, termasuk soal serangan Iran ke
Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan untuk membahas situasi di Timur Tengah, termasuk soal serangan Iran ke Israel, di markas PBB di Kota New York, pada 14 April 2024. (Foto: AFP/Charly Triballeau)
0 Komentar

PIHAK Rusia, Tiongkok, dan Prancis dilaporkan menghalangi resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan mengizinkan penggunaan kekuatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Menurut The New York Times yang mengutip sumber diplomatik dan pejabat senior PBB, draf resolusi tersebut memuat klausul yang memberi wewenang kepada negara anggota untuk menggunakan berbagai cara untuk menjamin kebebasan pelayaran dan mencegah upaya penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal.

Usulan yang diajukan Bahrain dan didukung negara-negara Teluk tersebut telah memasuki revisi keempat setelah perundingan tertutup selama berminggu-minggu.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Pemungutan suara resmi atas resolusi tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, namun belum dapat dipastikan apakah para pendukungnya mampu memperoleh dukungan dari Rusia, Tiongkok, dan Prancis yang memiliki hak veto.

Sumber diplomatik juga menyebutkan bahwa perbedaan pandangan tidak hanya terjadi di antara anggota tetap, tetapi juga di antara 10 anggota tidak tetap Dewan Keamanan.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Eskalasi tersebut memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk ke pasar global, yang turut menekan ekspor dan produksi energi serta mendorong kenaikan harga di pasar internasional.

0 Komentar