KENAIKAN harga avtur antara 70 persen hingga 80 persen benar-benar membuat maskapai penerbangan sulit bernapas. Mereka pun harus semakin selektif dalam mempertahankan rute.
Rute “gemuk” tentu dipertahankan, sementara rute sepi penumpang berpotensi ditutup. Misalnya, maskapai Wings Air memutuskan menutup rute Bandung–Yogyakarta, padahal baru sebulan beroperasi.
Sebagai informasi, rute Bandung–Yogyakarta diresmikan Wings Air pada 11 Februari 2026. Penerbangan tersebut menggunakan pesawat tipe ATR 72-500 dengan kode penerbangan IW 1812.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Untuk jadwalnya, penerbangan berangkat pukul 11.05 WIB dan tiba pukul 12.35 WIB dari Bandara Husein Sastranegara. Sementara rute Yogyakarta–Bandung dengan kode penerbangan IW 1811 memiliki jadwal keberangkatan pukul 13.00 WIB dan tiba pukul 14.25 WIB. Namun, layanan tersebut berhenti beroperasi setelah terakhir melayani arus balik Lebaran 2026.
Langkah serupa dilakukan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Maskapai pelat merah itu terpaksa menutup permanen rute Jakarta–Bengkulu pada 28 Maret 2026.
Keputusan Garuda Indonesia menutup rute Jakarta–Bengkulu bukan untuk membesarkan Citilink, meskipun rute tersebut kini dilayani anak usahanya. Faktor utamanya adalah hukum ekonomi, yakni sepinya penumpang.
Hal itu terkonfirmasi dari pernyataan Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, yang sempat mengunjungi kantor pusat Garuda Indonesia di Tangerang, Banten, guna membahas kelanjutan layanan penerbangan ke Bengkulu.
“Dari pihak maskapai, penjelasan disampaikan oleh Direktur Teknik Garuda Indonesia, Mukhtaris. Salah satu alasannya adalah tingkat keterisian penumpang pada rute Bengkulu yang masih rendah sehingga berpotensi menimbulkan kerugian berkelanjutan bagi perusahaan,” ujar Gubernur Helmi.
Rendahnya tingkat keterisian penumpang atau load factor menjadi tantangan utama dalam menjaga keberlanjutan rute penerbangan. Dalam industri penerbangan, okupansi yang tidak optimal berdampak langsung pada biaya operasional dan profitabilitas maskapai.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Lukman F. Laisa, menyebut evaluasi jaringan merupakan praktik normal dalam industri penerbangan global.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Maskapai perlu melakukan penyesuaian agar utilisasi armada optimal dan tidak membebani keuangan perusahaan. “Setiap rute harus memenuhi indikator komersial tertentu, termasuk tingkat keterisian kursi dan keberlanjutan pendapatan operasional,” paparnya.
