BMKG: Status Siaga Tsunami di Wilayah Terdampak Gempa di Sulawesi Utara dan Maluku Utara

Gempa magnitudo 7,6 mengguncang Manado, Sulawesi Utara, sebabkan korban jiwa dan kerusakan bangunan. (Instagra
Gempa magnitudo 7,6 mengguncang Manado, Sulawesi Utara, sebabkan korban jiwa dan kerusakan bangunan. (Instagram/Manado_update)
0 Komentar

GEMPA bumi magnitudo 7,6 yang terjadi di Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Kamis (2/4/2026) pagi berpotensi memicu tsunami di sejumlah wilayah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan status siaga tsunami untuk beberapa daerah terdampak.

Wilayah yang berpotensi terdampak tsunami, yakni Kota Ternate, Halmahera, Tidore, dan Bitung. Ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 0,5 hingga 3 meter.

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini berpotensi tsunami di wilayah Kota Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung dengan status siaga dengan ketinggian tsunami diperkirakan 0,5 hingga 3 meter,” kata Kepala BMKG, Teuku Faishal Fathani, dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Kamis (2/4/2026) pagi.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

BMKG juga mencatat bahwa tsunami telah terdeteksi di beberapa titik. Pengamatan muka air laut menunjukkan adanya kenaikan di tiga lokasi berbeda.

Di Halmahera Barat, tsunami terdeteksi dengan ketinggian 0,3 meter. Sementara di Bitung tercatat 0,2 meter, dan di Minahasa Utara mencapai 0,75 meter.

“Hasil observasi muka air laut tsunami terdeteksi di tiga lokasi yang baru masuk, yaitu Halmahera Barat pukul 06.08 dengan ketinggian 0,3 meter, kemudian Bitung pada pukul 06.15 pada ketinggian 0,2 meter,” jelasnya.

Teuku menyatakan bahwa potensi tsunami masih berlangsung. Oleh karena itu, pemantauan terus dilakukan secara intensif.

Peringatan dini telah dikeluarkan dalam waktu cepat setelah gempa terjadi. Teuku menegaskan pentingnya respons cepat dalam situasi seperti ini.

Sebagai informasi, BMKG mengumumkan bahwa gempa ini disebabkan oleh aktivitas subduksi di Laut Maluku, yakni sebuah proses geologi dimana satu lempeng bumi menunjam ke bawah lempeng lain.

Selain itu, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki pergerakan naik atau thrust fault. Mekanisme ini umum terjadi pada zona subduksi aktif.

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

Kondisi ini menyebabkan energi gempa yang dilepaskan cukup besar dan berdampak luas. Getaran pun dirasakan hingga berbagai wilayah di Sulawesi Utara dan Gorontalo.

“Getaran dirasakan oleh semua penduduk, kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh, cerobong asap pada pabrik rusak, dan terjadinya kerusakan ringan di tiap-tiap bangunan,” ucap Teuku.

0 Komentar