BADAN Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara disebabkan oleh aktivitas subduksi di Laut Maluku, yakni sebuah proses geologi di mana satu lempeng bumi menunjam ke bawah lempeng lain.
Kepala BMKG, Teuku Faishal Fathani, mengatakan, gempa yang terjadi pada Kamis (2/4/2026) pagi tersebut memiliki karakteristik sebagai gempa dangkal. Kedalaman hiposenter yang hanya 33 kilometer memperkuat indikasi tersebut.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi kerak bumi, yaitu akibat aktivitas subduksi Laut Maluku,” kata Teuku dalam konferensi pers BMKG yang digelar secara daring.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Selain itu, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki pergerakan naik atau thrust fault. Mekanisme ini umum terjadi pada zona subduksi aktif.
Kondisi ini menyebabkan energi gempa yang dilepaskan cukup besar dan berdampak luas. Getaran pun dirasakan hingga berbagai wilayah di Sulawesi Utara dan Gorontalo.
“Getaran dirasakan oleh semua penduduk, kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh, cerobong asap pada pabrik rusak, dan terjadinya kerusakan ringan di tiap-tiap bangunan,” jelas Teuku.
Di Kota Ternate, Maluku Utara, getaran cukup kuat hingga menyebabkan kepanikan warga. Banyak penduduk dilaporkan berlarian keluar rumah akibat guncangan.
Sementara di Manado, Sulawesi Utara, getaran dirasakan hampir oleh seluruh warga, bahkan membangunkan orang yang sedang tidur. Di wilayah lain seperti Gorontalo, getaran masih terasa meski lebih ringan.
“Lalu di Gorontalo, Bone Bolango, Gorontalo Utara, dengan intensitas 3 MMI, yaitu getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan-akan ada truk yang berlalu,” ucapnya.
BMKG juga menerima laporan kerusakan ringan di sejumlah bangunan. Namun, hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Di sisi lain, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa sistem tektonik di wilayah tersebut masih aktif.
“Selanjutnya dirasakan juga di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato dengan intensitas 2 sampai 3 MMI yaitu getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang tergantung bergoyang,” tutupnya.
