Ekonom Iran, Hossein Raghfar dikutip Tasnim, Senin (30/3/2026) memperkirakan, Teheran bisa meraup hingga 60 miliar dolar AS per tahunnya dari penerapan tarif tol di Selat Hormuz. Menurut Raghfar, IRGC telah mengamankan keunggulan strategis dan ekonomi lewat kontrol penuh terhadap Selat Hormuz bahkan sebelum perang dimulai.
“Hari ini posisi dari pihak yang menjatuhkan sanksi dan dijatuhi sanksi telah berbalik. Sebuah alat yang sangat kuat saat ini berada di tangan kami, dan itu adalah kontrol terhadap Selat Hormuz,” kata Raghfar.
Tidak hanya potensi pendapatan dari tarif tol Selat Hormuz, skala penjualan minyak Iran juga meningkat. Berdasarkan data ekspor Tankertrackers, pendapatan harian Iran dari minyak saat ini diperkiarakan mencapai 139 juta dolar AS hasil dari ekspor minyak mentah ringan, meningkat dari penjualan harian pada Februari pada angka 115 juta dolar AS.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Angka ekspor minyak Iran juga tetap mendekat sebelum perang yakni sekitar 1,6 juta barel per hari. Di mana kapal-kapal tanker Iran secara rutin tetap melakukan pengisian di Pulau Kharg sebelum diekspor, sementara kapal-kapal tanker negara-negara Teluk Persia tak bisa melintasi Selat Hormuz.
Raghfar melanjutkan, jika situasi saat ini terus berlanjut, harga minyak dunia akan mencapai 150 dolar AS per barel. Penutupan Selat Hormuz telah digambarkan oleh Badan Energi Internasional sebagai tantangan terbesar dalam sejarah terhadap keamanan energi global, di mana pada kondisi normal, sekitar 20 juta barel minyak per harinya transit di selat itu.
Menurut Raghfar, Iran harus memperlakukan kondisi masa perang sebagai sebuah kesempatan mendasar untuk mengulas kembali kebijakan ekonominya. Ia pun menambahkan bahwa pengusiran militer AS dari pangkalan-pangkalan di Timur Tengah bisa menjadi keuntungan strategis bagi Teheran pada masa depan.
Seiring pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran, seorang profesor mendadak populer di internet lantaran analisis dan prediksi yang sampai membuatnya dijuluki sebagai ‘Nostradamus China’. Dia adalah Profesor Xueqin Jiang yang membagikan prediksi-prediksinya secara reguler lewat akun YouTube, Predictive History.
Salah satu prediksi Jiang adalah Iran akan memenangi perang ini dan akan menuntut biaya reparasi akibat perang dari AS dan Israel. Uang dari reparasi itu ditambah hasil dari penerapan biaya tol di Selat Hormuz, menurut Jiang, kemudian akan digunakan Iran untuk membangun ekonominya kembali setelah puluhan tahun dijerat oleh beragam sanksi internasional.
