DEPARTEMEN Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan tengah menggodok skenario serangan darat ke wilayah Iran. Langkah ini muncul di tengah masifnya pengerahan personel militer AS ke kawasan Timur Tengah, sebuah sinyalemen kuat akan terjadinya eskalasi fase baru dalam konflik di Teluk.
Laporan Washington Post pada Sabtu (28/3/2026) menyebutkan, para pejabat militer AS menilai rencana ini sebagai ‘fase baru perang’ yang jauh lebih berisiko bagi pasukan Paman Sam. Jika dieksekusi, operasi ini diprediksi akan menjadi babak paling berbahaya dibandingkan rangkaian kontak senjata yang telah berlangsung selama empat pekan terakhir.
Bukan Invasi Skala Penuh
Meski terdengar masif, sumber internal menyebut operasi darat ini bukan berupa invasi berskala penuh layaknya Perang Irak. Fokus utama militer AS adalah operasi khusus yang melibatkan satuan infanteri dan pasukan elite untuk melakukan penyergapan strategis.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Dua titik krusial yang masuk dalam radar diskusi adalah Pulau Kharg, yang merupakan jantung ekspor minyak Iran, serta pesisir Selat Hormuz untuk menetralisir ancaman terhadap jalur pelayaran global.
“Tugas Pentagon adalah menyiapkan persiapan agar Panglima Tertinggi (Presiden) mendapatkan pilihan yang paling optimal,” tegas Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt. Namun, ia menggarisbawahi bahwa hingga saat ini Presiden Donald Trump belum mengetuk palu keputusan.
Risiko ‘Hujan Drone’ dan Penolakan Publik
Skenario ini bukan tanpa celah. Para pakar militer memperingatkan bahwa pengerahan pasukan darat akan membuat prajurit AS menjadi sasaran empuk bagi drone, rudal, hingga peledak rakitan (IED).
“Saya tidak ingin ada di tempat sekecil itu dengan kemampuan Iran menghujani mereka dengan drone,” ujar Michael Eisenstadt, seorang pakar militer. Ia menekankan bahwa mobilitas dan kelincahan adalah kunci perlindungan pasukan di medan yang sangat rentan tersebut.
Di sisi lain, publik Amerika tampaknya enggan kembali terjebak dalam perang darat. Jajak pendapat terbaru menunjukkan 62 persen responden menolak serangan darat ke Iran, sementara hanya 12 persen yang menyatakan dukungan.
Eskalasi Sejak Februari
Tensi di kawasan Teluk meledak sejak serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran membalas dengan menghujani Israel serta pangkalan AS di Yordania dan Irak dengan rudal.
