'No Kings' di 50 Negara Bagian AS Tolak Kebijakan Trump, Aksi Paling Terkoordinasi Sepanjang Sejarah

Aksi unjuk rasa diadakan di seluruh AS pada hari Sabtu dalam protes 'No Kings' terbaru melawan tindakan pemeri
Aksi unjuk rasa diadakan di seluruh AS pada hari Sabtu dalam protes 'No Kings' terbaru melawan tindakan pemerintahan Trump. Penyelenggara mengatakan acara tersebut terdaftar di semua 50 negara bagian, dengan jutaan orang diperkirakan berbaris menyampaikan keluhan termasuk perang di Iran dan penegakan imigrasi pemerintah yang agresif.
0 Komentar

JUTAAN orang diperkirakan turun ke jalan di seluruh Amerika Serikat pada Sabtu dalam aksi nasional ketiga “No Kings” (Tidak ada raja), untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump.

Unjuk rasa tersebut dilaksanakan di semua 50 negara bagian AS serta 16 negara lainnya, sehingga menandai salah satu aksi protes paling terkoordinasi sepanjang sejarah negara itu.

Pelaksana aksi, yang mencakup ormas anti-otoritarianisme Indivisible dan 50501, kemudian serikat pekerja, dan perkumpulan akar rumput lainnya, melaporkan lebih dari 3.000 aksi demonstrasi berlangsung di seantero AS.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Menurut laporan media setempat, protes “No Kings” sebelumnya pada Oktober 2025 diikuti 7 juta pengunjuk rasa di seluruh AS.

Demonstrasi tersebut dilangsungkan di tengah anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap Trump, bahkan ditambah dengan sejumlah pendukung garis kerasnya yang turut mengungkapkan rasa frustrasi.

Keluhan yang disoroti pengkritik Trump dalam unjuk rasa kali ini antara lain konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel AS, kenaikan harga barang dan minyak, tarif impor yang berdampak pada barang sehari-hari, dan antrean pemeriksaan keamanan di bandara yang mengular akibat kebuntuan pembahasan anggaran.

Menurut Washington Post, ribuan orang berkumpul di depan Gedung Capitol negara bagian Minnesota untuk aksi utama protes “No Kings” yang disebut oleh pendiri ormas Indivisible Ezra Levin sebagai “protes terbesar dalam sejarah Minnesota”.

Sementara di Washington DC, belasan ibu dari Palestina melakukan unjuk rasa di depan tugu Lincoln Memorial dengan mengibarkan bendera Palestina raksasa, menurut The Guardian.

“Sebagian besar rakyat Amerika tak tahu bahwa uang pajak kita digunakan untuk menyubsidi aksi kekerasan,” kata seorang pengunjuk rasa, Hazami Barmada (43), sebagaimana dilaporkan The Guardian.

“Hal ini terjadi ketika banyak rakyat Amerika tak dapat membayar tempat tinggal, susu, sekolah, ataupun layanan kesehatan. Harga-harga naik ketika kita berperang dalam perangnya Israel,” ucap Barmada.

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

Sementara itu, CNN melaporkan adanya unjuk rasa tandingan di sejumlah titik, seperti di West Palm Beach, Florida, di mana sekitar 50 pendukung Trump dengan topi “Proud Boys” berhadapan dengan pengunjuk rasa “No Kings”.

0 Komentar