Narasi ini memberi kesan seolah ketegangan di Selat Hormuz mulai mengendur. Padahal gambaran besarnya belum berubah banyak. Hormuz tetap menjadi sumber guncangan pasar energi, harga minyak masih melonjak dari level pra-perang ke atas US$100 per barel, dan bahkan pemerintah AS sendiri masih menempatkan keamanan selat itu sebagai salah satu inti dari proposal damainya. Jadi, kalaupun ada isyarat kecil di lapangan, itu belum cukup untuk menyebut situasi sudah pulih. Jalur minyak dunia itu masih tetap rapuh.
Di Depan Bicara Damai, Trump Tetap Siapkan Tekanan Militer
Kontradiksi itu makin terlihat pada waktu yang sama dalam rapat kabinet Gedung Putih. Trump kembali menekankan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan.
Tetapi hampir dalam napas yang sama, ia juga melempar ancaman “Kalau tidak, kami akan terus menggempur mereka.” Jadi, pesan yang keluar ke publik menjadi saling bertabrakan. Apakah Washington sedang sungguh-sungguh membuka jalan damai, atau justru tetap menaruh eskalasi militer sebagai bahasa utamanya?
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Dari sudut pandang pasar dan diplomasi, pesan yang seperti ini justru menambah ketidakpastian.
Trump Anggap Kenaikan Energi Tak Parah, Warga Amerika Serikat Justru Tertekan
Masih pada momen yang sama dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Trump juga memberi kesan bahwa lonjakan harga energi tidak separah yang dikhawatirkan dan pada akhirnya akan mereda.
Di saat yang sama, pemerintahannya terus menonjolkan narasi dominasi energi AS di tengah krisis pasokan global.
Masalahnya, realita yang dirasakan warga AS justru bergerak ke arah sebaliknya. Per 26 Maret 2026, harga bensin rata-rata nasional di AS tercatat sekitar US$3,98 per galon.
Angka itu memang turun tipis pada hari itu, tetapi tetap berarti harga bensin sudah naik sekitar 99 sen per galon sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, sekaligus menutup rentetan 25 hari kenaikan beruntun.
Jadi, lonjakan harga energi bukan cuma terlihat di pasar minyak dunia, tetapi sudah langsung terasa dan membebani konsumen AS.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Dampaknya juga mengancam perekonomian AS. Risiko inflasi meningkat seiring harga minyak global melonjak dari sekitar US$75 menjadi di atas US$100 per barel.
