Kenyataan pun tidak mendukung gambaran bahwa perang sudah hampir beres. Setelah pertengahan Maret, tensi justru tetap tinggi. AS masih menambah pengerahan pasukan ke Timur Tengah, sementara Selat Hormuz tetap rawan untuk dilewati kapal-kapal dagang khususnya kapal tanker yang pada akhirnya mengganggu arus energi global.
Trump Sebut Sudah Banyak Kesepahaman, Iran Malah Menolak
Setelah beberapa hari bernada keras, Trump mulai mengubah arah omongannya. Hal ini terlihat dari ucapannya pada Senin (23/3/2026), saat berbicara kepada media, Trump memberi kesan bahwa jalan damai mulai terbuka. Trump mengatakan sudah ada “banyak poin penting yang sejalan” dan memberi sinyal bahwa kesepakatan bisa tercapai dalam waktu dekat.
Namun, ketika proposal dari Washington sampai ke pihak Iran, tanggapan yang muncul justru negatif.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Iran menilai isi usulan itu berat sebelah dan tidak adil. Hal ini makin memperlihatkan bahwa jarak posisi kedua pihak sebenarnya masih cukup jauh. Artinya, klaim bahwa sudah banyak titik temu belum benar-benar tercermin dalam isi pembicaraan yang ada.
Optimisme Trump soal Damai Tak Sejalan dengan Sikap Iran
Sehari setelah itu, pada 24 Maret 2026, nada Trump makin optimistis. Saat berbicara kepada wartawan di Oval Office, ia berkata, “Kami sedang berbicara dengan orang-orang yang tepat,” lalu menambahkan, “Saat ini kami sedang bernegosiasi.” Pernyataan ini memberi harapan bahwa perang mulai bergerak ke jalur diplomasi.
Namun, pada saat yang sama, pihak Iran justru membantah gambaran tersebut. Dari Teheran, yang diakui baru sebatas pertukaran pesan lewat mediator, bukan perundingan langsung yang sudah menghasilkan terobosan besar. Akibatnya, optimisme Trump soal damai terlihat melaju lebih cepat dibanding perkembangan diplomasi yang benar-benar terjadi.
Situasi Hormuz Disebut Mendingan, Faktanya Masih Rawan
Masih pada 24 Maret 2026, Trump juga mulai memberi kesan bahwa ada perkembangan positif di jalur energi.
Dalam keterangannya di Oval Office, ia mengatakan Iran memberi “hadiah yang sangat besar” kepada AS dan menegaskan bahwa hadiah itu terkait minyak dan gas, bukan isu nuklir.
Dua hari kemudian, pada Kamis (26/3/2026) dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Trump menjelaskan bahwa yang dia maksud adalah Iran membiarkan sejumlah kapal tanker melintas.
