Politisasi Pemecatan Berbasis Balas Dendam Era Trump, Komunitas Intelijen Amerika Serikat Terguncang

Operasi Rahasia CIA
Operasi Rahasia CIA
0 Komentar

KOMUNITAS intelijen Amerika Serikat (AS) saat ini dikabarkan terguncang akibat kepemimpinan kacau, politisasi, dan pemecatan berbasis balas dendam di era Presiden Donald Trump.

Pejabat intelijen frustrasi karena kebenaran dari laporan mereka sering diabaikan atau dipelintir untuk mendukung kebijakan Trump, termasuk klaim ancaman nuklir Iran.

The Economist mewawancarai beragam pejabat intelijen saat ini dan mantan pejabat. Mereka menggambarkan komunitas intelijen yakni istilah kolektif untuk 18 badan intelijen Amerika sebagai kelompok yang terguncang oleh pemecatan berbasis balas dendam, kepemimpinan kacau, dan politisasi.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

“Moral sedang sangat rendah,” ujar salah satu sumber, dikutip dari The Economist.

Ada beberapa alasan mengapa suasana begitu buruk. Yang paling jelas adalah mata-mata seharusnya menyampaikan kebenaran kepada atasan mereka.

Di bawah Trump, hal itu tidak selalu diterima. Contohnya terjadi pada 18 Maret 2026, ketika Tulsi Gabbard, Direktur Intelijen Nasional, menyampaikan survei tahunan kantor tentang ancaman yang dihadapi Amerika kepada Kongres.

Dalam catatan tertulisnya, Gabbard menyebut bahwa serangan Amerika ke Iran tahun lalu telah “menghancurkan” program pengayaan nuklir Iran, dan Iran “tidak berusaha” membangunnya kembali.

Pernyataan ini melemahkan alasan Trump untuk perang di Iran yaitu klaim bahwa negara itu hanya dua minggu dari memiliki bom nuklir. Gabbard sengaja menghapus baris tersebut dari kesaksiannya secara lisan.

Sehari sebelumnya, Joe Kent, loyalis MAGA (Make America Great Again), yang memimpin National Counterterrorism Centre di kantor Gabbard, mengundurkan diri sebagai protes terhadap perang, mengatakan tidak ada intelijen yang mendukung klaim Trump bahwa Iran merupakan “ancaman nuklir yang mendesak”.

Sebagai catatan, “Make America Great Again”, slogan politik yang populer digunakan oleh Donald Trump sejak kampanye presidennya pada 2015-2016.

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

Ketika ditekan soal hal ini, Gabbard yang sejak lama menentang perang dengan Iran menolak bertanggung jawab.

“Satu-satunya orang yang bisa menentukan apa yang merupakan ancaman mendesak atau bukan,” jawabnya, “adalah presiden.”

Pernyataan ini mengejutkan ribuan pejabat intelijen AS, mengingat Badan Intelijen AS (CIA) didirikan pada 1947 untuk mencegah kejutan strategis seperti serangan Jepang ke Pearl Harbor.

0 Komentar