Ikatan Dokter Anak Indonesia Dukung Penerapan PP Tunas, Ini Alasannya

Ikatan Dokter Anak Indonesia Dukung Penerapan PP Tunas, Ini Alasannya
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso. (Foto: Istimewa)
0 Komentar

“Kita semua ingin anak-anak kita tumbuh optimal. Namun, secara neurologis dan psikologis, anak-anak belum siap mengarungi lautan media sosial sendirian. Mereka masih belajar mengenali risiko, menjaga diri, dan mengelola emosi. PP TUNAS ini adalah pagar pelindung di tepi jurang. Bukan untuk menjauhkan mereka dari dunia luas, tetapi untuk melindungi mereka agar tidak jatuh sebelum cukup kuat dan siap,” tuturnya.

Batas yang Realistis

IDAI menilai batas usia 16 tahun sebagai ambang yang realistis, karena pada usia tersebut anak umumnya telah memiliki kematangan emosional dan kognitif yang lebih baik dalam menyaring informasi.

Sementara itu, Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Fitri Hartanto menegaskan bahwa kebijakan ini harus dibarengi dengan penguatan peran keluarga.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

“Pembatasan usia itu penting, tetapi pendampingan tetap penting. Ini bukan tentang mengganti peran orang tua dengan aturan, tetapi bagaimana aturan ini menjadi fondasi yang memungkinkan orang tua untuk menjalankan perannya dengan lebih baik. Yang kita jaga bukan sekadar akses anak terhadap gawai, melainkan masa depan mereka. Anak-anak butuh waktu untuk bergerak, berinteraksi secara nyata, dan mengembangkan resiliensi. PP TUNAS memberi kita ruang untuk memulihkan keseimbangan itu,” jelas Fitri.

Ia menambahkan, kondisi di lapangan menunjukkan tidak semua anak mendapatkan pendampingan yang memadai saat mengakses internet. Kesenjangan literasi digital dan kapasitas keluarga menjadi alasan pentingnya kebijakan berbasis perlindungan struktural.

“Pembatasan akses media sosial bukanlah solusi tunggal. Ini adalah langkah awal yang baik, tetapi harus diikuti dengan penguatan fondasi keluarga. Anak-anak perlu memiliki figur yang menjadi tempat bercerita. Peran ini idealnya diisi oleh orang tua. Pola pengasuhan perlu diperbaiki agar orang tua dapat menjadi sahabat bagi anak-anaknya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fitri menekankan pentingnya menyediakan aktivitas alternatif bagi anak setelah pembatasan akses media sosial diberlakukan, seperti kegiatan fisik dan interaksi sosial langsung.

IDAI menegaskan bahwa kebijakan ini bukan untuk melarang penggunaan teknologi, melainkan memastikan kesiapan mental dan psikologis anak sebelum memasuki ruang digital yang kompleks.

0 Komentar