Perusahaan migas AS lainnya yang diramal ketiban runtuh adalah Diamondback Energy, raksasa minyak yang fokus pada produksi shale (minyak serpih).
Analis memperkirakan perusahaan migas AS tanpa aset internasional tersebut akan mencatat laba sekitar US$3 per saham pada kuartal I-2026 atau nyaris naik 28 persen dari estimasi sebelum perang. Proyeksi laba tahunan perusahaan ini juga telah direvisi naik 22 persen.
“Industri minyak sepenuhnya bergantung pada harga. Harga naik, semua perusahaan minyak diuntungkan,” kata Anil Agarwal, pendiri Cairn Oil & Gas di India.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Meski laba kuartal pertama diperkirakan melonjak, hal itu tidak akan serta-merta meningkatkan belanja modal atau memicu investasi baru. Sebab, gejolak harga minyak ini bersifat sementara, sedangkan proyek baru membutuhkan kepastian jangka panjang.
“Harga minyak bisa naik, bisa turun. Untuk proyek baru, saya harus melihat lima hingga tujuh tahun ke depan apakah itu layak,” ujar Jeff Lawson, Wakil Presiden Eksekutif Cenovus.
